Sabtu, 18 September 2010

Kisah Uwais Al Qurni.


TAK TERKENAL DI BUMI, TERKENAL DI LANGIT


Pada zaman Nabi Muhammad SAW, ada seorang pemuda bermata biru, rambutnya merah, pundaknya lapang panjang, berpenampilan cukup tampan, kulitnya kemerah-merahan, dagunya menempel di dada selalu melihat pada tempat sujudnya, tangan kanannya menumpang pada tangan kirinya, ahli membaca Al Quran dan menangis, pakaiannya hanya dua helai yang sudah kusut yang satu untuk penutup badan dan yang satunya untuk selendangan, tiada orang yang menghiraukan, tak dikenal oleh penduduk bumi akan tetapi sangat terkenal di langit.

Dia, jika bersumpah demi Allah pasti terkabul. Pada hari kiamat nanti ketika semua ahli ibadah dipanggil disuruh masuk surga, dia justru dipanggil agar berhenti dahulu dan disuruh memberi syafaat, ternyata Allah memberi izin dia untuk memberi syafaat sejumlah qobilah Robiah dan qobilah Mudhor, semua dimasukkan surga tak ada yang ketinggalan karenanya.

Dia adalah Uwais al-Qarni.

Ia tak dikenali ramai dan juga miskin, banyak orang suka menertawakannya, mengolok-olok, dan menuduhnya sebagai tukang membujuk, tukang mencuri serta berbagai macam umpatan dan penghinaan lainnya.

Seorang fuqoha negeri Kuffah, karena ingin duduk dengannya, memberinya hadiah dua helai pakaian, tapi tak berhasil dengan baik, karena hadiah pakaian tadi diterima lalu dikembalikan lagi olehnya seraya berkata :Aku khawatir, nanti sebagian orang menuduh aku, dari mana kamu dapatkan pakaian itu, kalau tidak dari membujuk pasti dari mencuri. Pemuda dari Yaman ini telah lama menjadi yatim, tak punya sanak saudara kecuali hanya ibunya yang telah tua renta dan lumpuh. Hanya penglihatan kabur yang masih tersisa. Untuk mencukupi kehidupannya sehari-hari, Uwais bekerja sebagai penggembala kambing. Upah yang diterimanya hanya cukup untuk sekedar menopang kesehariannya bersama Sang ibu, bila ada kelebihan, ia pergunakan untuk membantu tetangganya yang hidup miskin dan serba kekurangan seperti keadaannya.Kesibukannya sebagai penggembala domba dan merawat ibunya yang lumpuh dan buta, tidak mempengaruhi kegigihan ibadahnya, ia tetap melakukan puasa di siang hari dan bermunajat di malam harinya Uwais al-Qarni telah memeluk Islam pada masa negeri Yaman mendengar seruan Nabi Muhammad SAW. yang telah mengetuk pintu hati mereka untuk menyembah Allah, Tuhan Yang Maha Esa, yang tak ada sekutu bagi-Nya.

Islam mendidik setiap pemeluknya agar berakhlak luhur. Peraturan-peraturan yang terdapat di dalamnya sangat menarik hati Uwais, sehingga setelah seruan Islam datang di negeri Yaman, ia segera memeluknya, karena selama ini hati Uwais selalu merindukan datangnya kebenaran.Banyak tetangganya yang telah memeluk Islam, pergi ke Madinah untuk mendengarkan ajaran Nabi Muhammad SAW secara langsung. Sekembalinya di Yaman, mereka memperbarui rumah tangga mereka dengan cara kehidupan Islam. Alangkah sedihnya hati Uwais setiap melihat tetangganya yang baru datang dari Madinah. Mereka itu telah bertamu dan bertemu dengan kekasih Allah penghulu para Nabi, sedang ia sendiri belum.Kecintaannya kepada Rasulullah menumbuhkan kerinduan yang kuat untuk bertemu dengan sang kekasih, tapi apalah daya ia tak punya bekal yang cukup untuk ke Madinah, dan yang lebih ia beratkan adalah sang ibu yang jika ia pergi, tak ada yang merawatnya.

Di ceritakan ketika terjadi perang Uhud Rasulullah SAW mendapat cedera dan giginya patah karena dilempari batu oleh musuh-musuhnya. Kabar ini akhirnya terdengar oleh Uwais. Ia segera memukul giginya dengan batu hingga patah. Hal tersebut dilakukan sebagai bukti kecintaannya kepada beliau SAW, sekalipun ia belum pernah melihatnya.Hari berganti dan musim berlalu, dan kerinduan yang tak terbendung membuat hasrat untuk bertemu tak dapat dipendam lagi. Uwais merenungkan diri dan bertanya dalam hati, bilakah ia dapat menziarahi Nabinya dan memandang wajah beliau dari dekat ? Tapi, bukankah ia mempunyai ibu yang sangat membutuhkan perawatannya dan tak tega ditingalkan sendiri, hatinya selalu gelisah siang dan malam menahan kerinduan untuk berjumpa.Akhirnya, pada suatu hari Uwais mendekati ibunya, mengeluarkan isi hatinya dan memohon izin kepada ibunya agar diperkenankan pergi menziarahi Nabi SAW di Madinah. Sang ibu, walaupun telah uzur, merasa terharu ketika mendengar permohonan anaknya. Beliau memaklumi perasaan Uwais, dan berkata:Pergilah wahai anakku ! temuilah Nabi di rumahnya. Dan bila telah berjumpa, segeralah engkau kembali pulang.Dengan rasa gembira ia berkemas untuk berangkat dan tak lupa menyiapkan keperluan ibunya yang akan ditinggalkan serta berpesan kepada tetangganya agar dapat menemani ibunya selama ia pergi. Sesudah berpelukkan sambil menciumi sang ibu, berangkatlah Uwais menuju Madinah yang berjarak kurang lebih empat ratus kilometer dari Yaman. Medan yang begitu ganas dilaluinya, tak peduli penyamun gurun pasir, bukit yang curam, gurun pasir yang luas yang dapat menyesatkan dan begitu panas di siang hari, serta begitu dingin di malam hari, semuanya dilalui demi bertemu dan dapat memandang sepuas-puasnya paras baginda Nabi SAW yang selama ini dirindukannya.

Tibalah Uwais al-Qarni di kota Madinah. Segera ia menuju ke rumah Nabi SAW, diketuknya pintu rumah itu sambil mengucapkan salam. Keluarlah sayyidatina Aisyah r.a., sambil menjawab salam Uwais. Segera saja Uwais menanyakan Nabi yang ingin dijumpainya. Namun ternyata beliau SAW tidak berada di rumah melainkan berada di medan perang.Betapa kecewa hati sang perindu, dari jauh ingin berjumpa tetapi yang dirindukannya tak berada di rumah. Dalam hatinya bergolak perasaan ingin menunggu kedatangan Nabi SAW dari medan perang. Tapi, bilakah beliau pulang ? Sedangkan masih terngiang di telinga pesan ibunya yang sudah tua dan sakit-sakitan itu, agar ia cepat pulang ke Yaman, Engkau harus lekas pulang.Karena ketaatan kepada ibunya, pesan ibunya tersebut telah mengalahkan suara hati dan kemauannya untuk menunggu dan berjumpa dengan Nabi SAW. Ia akhirnya dengan terpaksa mohon pamit kepada sayyidatina Aisyah r.a. untuk segera pulang ke negerinya. Dia hanya menitipkan salamnya untuk Nabi SAW dan melangkah pulang dengan perasaan haru.

Sepulangnya dari perang, Nabi SAW langsung menanyakan tentang kedatangan orang yang mencarinya. Nabi Muhammad SAW menjelaskan bahwa Uwais al-Qarni adalah anak yang taat kepada ibunya. Ia adalah penghuni langit (sangat terkenal di langit). Mendengar perkataan baginda Rosulullah SAW, sayyidatina Aisyah r.a. dan para sahabatnya tertegun. Menurut kata sayyidatina Aisyah r.a., memang benar ada yang mencari Nabi SAW dan segera pulang kembali ke Yaman, karena ibunya sudah tua dan sakit-sakitan sehingga ia tidak dapat meninggalkan ibunya terlalu lama.

Rosulullah SAW bersabda : Kalau kalian ingin berjumpa dengan dia (Uwais al-Qarni), perhatikanlah, ia mempunyai tanda putih di tengah-tengah telapak tangannya.Sesudah itu beliau SAW, memandang kepada sayyidina Ali k.w. dan sayyidina Umar r.a. dan bersabda : Suatu ketika, apabila kalian bertemu dengan dia, mintalah doa dan istighfarnya, dia adalah penghuni langit dan bukan penghuni bumi.

Tahun terus berjalan, dan tak lama kemudian Nabi SAW wafat, hingga kekhalifahan sayyidina Abu Bakar ash-Shiddiq r.a. telah di lantik menjadi Khalifah Umar r.a. Suatu ketika, khalifah Umar teringat akan sabda Nabi SAW. tentang Uwais al-Qarni, sang penghuni langit. Beliau segera mengingatkan kepada sayyidina Ali k.w. untuk mencarinya bersama. Sejak itu, setiap kali ada kafilah yang datang dari Yaman, beliau berdua selalu menanyakan tentang Uwais al-Qorni, apakah ia turut bersama mereka. Diantara kafilah-kafilah itu ada yang merasa heran, apakah sebenarnya yang terjadi sampai-sampai ia dicari oleh dua orang sahabat nabi yang besar ini. Rombongan kafilah dari Yaman menuju Syam silih berganti, membawa barang dagangan mereka.

Suatu ketika, Uwais al-Qorni turut bersama rombongan kafilah menuju kota Madinah. Melihat ada rombongan kafilah yang datang dari Yaman, segera khalifah Umar r.a. dan sayyidina Ali k.w. mendatangi mereka dan menanyakan apakah Uwais turut bersama mereka. Rombongan itu mengatakan bahwa ia ada bersama mereka dan sedang menjaga unta-unta mereka di perbatasan kota. Mendengar jawaban itu, beliau berdua bergegas pergi menemui Uwais al-Qorni.Sesampainya di kemah tempat Uwais berada, Khalifah Umar r.a. dan sayyidina Ali k.w. memberi salam. Namun rupanya Uwais sedang melaksanakan sholat. Setelah mengakhiri shalatnya, Uwais menjawab salam kedua tetamu agung tersebut sambil bersalaman. Sewaktu berjabatan, Khalifah Umar segera membalikkan tangan Uwais, untuk membuktikan kebenaran tanda putih yang berada ditelapak tangan Uwais, sebagaimana pernah disabdakan oleh baginda Nabi SAW. Memang benar ! Dia penghuni langit.

Dan ditanya Uwais oleh kedua tamu tersebut, siapakah nama saudara ?Abdullah, jawab Uwais.Mendengar jawaban itu, kedua sahabat pun tersenyum dan mengatakan : Kami juga Abdullah, yakni hamba Allah. Tapi siapakah namamu yang sebenarnya ?Uwais kemudian berkata: Nama saya Uwais al-Qorni.

Dalam pembicaraan mereka, diketahuilah bahwa ibu Uwais telah meninggal dunia. Itulah sebabnya, ia baru dapat turut bersama rombongan kafilah dagang saat itu. Akhirnya, Khalifah Umar dan Ali k.w. memohon agar Uwais berkenan mendoakan untuk mereka. Uwais enggan dan dia berkata kepada khalifah:Sayalah yang harus meminta doa daripada anda berdua. Mendengar perkataan Uwais, Khalifah berkata:Kami datang ke sini untuk mohon doa dan istighfar dari anda. Karena desakan kedua sahabat ini, Uwais al-Qorni akhirnya mengangkat kedua tangannya, berdoa dan membacakan istighfar.

Setelah itu Khalifah Umar r.a. berjanji untuk menyumbangkan wang negara dari Baitul Mal kepada Uwais, untuk jaminan hidupnya. Segera saja Uwais menolak dengan halus dengan berkata : Terimakasih wahai Amirul mu'minin. Hamba sama sekali tidak bermaksud menolak pemberian tuan, Hamba mohon supaya hari ini saja hamba diketahui orang. Untuk hari-hari selanjutnya, biarlah hamba yang fakir ini tidak diketahui orang lagi."

Setelah kejadian itu, nama Uwais kembali tenggelam tak terdengar beritanya.Tapi ada seorang lelaki pernah bertemu dan di tolong oleh Uwais , waktu itu kami sedang berada di atas kapal menuju tanah Arab bersama para pedagang, tanpa disangka-sangka angin topan berhembus dengan kencang. Akibatnya hempasan ombak menghantam kapal kami sehingga air laut masuk ke dalam kapal dan menyebabkan kapal semakin berat.Pada saat itu, kami melihat seorang laki-laki yang mengenakan selimut berbulu di pojok kapal yang kami tumpangi, lalu kami memanggilnya. Lelaki itu keluar dari kapal dan melakukan sholat di atas air. Betapa terkejutnya kami melihat kejadian itu.Wahai waliyullah, Tolonglah kami ! tetapi lelaki itu tidak menoleh.Lalu kami berseru lagi, Demi Zat yang telah memberimu kekuatan beribadah, tolonglah kami!Lelaki itu menoleh kepada kami dan berkata: Apa yang terjadi ?Tidakkah engkau melihat bahwa kapal dihembus angin dan dihantam ombak ?tanya kami.Dekatkanlah diri kalian pada Allah ! katanya.Kami telah melakukannya.Keluarlah kalian dari kapal dengan membaca bismillahirrohmaanirrohiim!Kami pun keluar dari kapal satu persatu dan berkumpul di dekat itu. Pada saat itu jumlah kami lima ratus jiwa lebih. Sungguh ajaib, kami semua tidak tenggelam, sedangkan perahu kami berikut isinya tenggelam ke dasar laut. Lalu orang itu berkata pada kami ,Tak apalah harta kalian menjadi korban asalkan kalian semua selamat.Demi Allah, kami ingin tahu, siapakah nama Tuan ? Tanya kami.Uwais al-Qorni. Jawabnya dengan singkat.Kemudian kami berkata lagi kepadanya, Sesungguhnya harta yang ada di kapal tersebut adalah milik orang-orang fakir di Madinah yang dikirim oleh orang Mesir. Jika Allah mengembalikan harta kalian. Apakah kalian akan membagi-bagikannya kepada orang-orang fakir di Madinah? tanyanya.Ya,jawab kami.Orang itu pun melaksanakan sholat dua rakaat di atas air, lalu berdoa. Setelah Uwais al-Qorni mengucap salam, tiba-tiba kapal itu muncul ke permukaan air, lalu kami menumpanginya dan meneruskan perjalanan. Setibanya di Madinah, kami membagi-bagikan seluruh harta kepada orang-orang fakir di Madinah, tidak satupun yang tertinggal.

Beberapa waktu kemudian, tersiar kabar kalau Uwais al-Qorni telah pulang ke rahmatullah. Anehnya, pada saat dia akan dimandikan tiba-tiba sudah banyak orang yang berebutan untuk memandikannya. Dan ketika dibawa ke tempat pembaringan untuk dikafani, di sana sudah ada orang-orang yang menunggu untuk mengkafaninya. Demikian pula ketika orang pergi hendak menggali kuburnya. Di sana ternyata sudah ada orang-orang yang menggali kuburnya hingga selesai. Ketika usungan dibawa menuju ke pekuburan, luar biasa banyaknya orang yang berebutan untuk mengusungnya.Dan Syeikh Abdullah bin Salamah menjelaskan, ketika aku ikut mengurusi jenazahnya hingga aku pulang dari mengantarkan jenazahnya, lalu aku bermaksud untuk kembali ke tempat penguburannya guna memberi tanda pada kuburannya, akan tetapi sudah tak terlihat ada bekas kuburannya. (Syeikh Abdullah bin Salamah adalah orang yang pernah ikut berperang bersama Uwais al-Qorni pada masa pemerintahan sayyidina Umar r.a.) Meninggalnya Uwais al-Qorni telah menggemparkan masyarakat kota Yaman. Banyak terjadi hal-hal yang amat mengherankan. Sedemikian banyaknya orang yang tak dikenal berdatangan untuk mengurus jenazah dan pemakamannya, padahal Uwais adalah seorang fakir yang tak dihiraukan orang. Sejak ia dimandikan sampai ketika jenazahnya hendak diturunkan ke dalam kubur, di situ selalu ada orang-orang yang telah siap melaksanakannya terlebih dahulu.

Penduduk kota Yaman tercengang.Mereka saling bertanya-tanya : Siapakah sebenarnya engkau wahai Uwais al-Qorni ? Bukankah Uwais yang kita kenal, hanyalah seorang fakir yang tak memiliki apa-apa, yang kerjanya hanyalah sebagai penggembala domba dan unta ? Tapi, ketika hari wafatmu, engkau telah menggemparkan penduduk Yaman dengan hadirnya manusia-manusia asing yang tidak pernah kami kenal. Mereka datang dalam jumlah terlalu ramai. Agaknya mereka adalah para malaikat yang di turunkan ke bumi, hanya untuk mengurus jenazah dan pemakamannya. Baru saat itulah penduduk Yaman mengetahuinya siapa Uwais al-Qorni ternyata ia tak terkenal di bumi tapi menjadi terkenal di langit.

Rabu, 15 September 2010

ISLAMNYA ABUZAR GHIFARI




Abuzar Ghifari merupakan seorang sahabat c yang terkenal dengan perbendaharaan ilmu pengetahuan dan kesalehannya.Kata Ali r.a.hu.: "Abuzar ialah penyimpan jenis-jenis ilmu pengetahuan yang tak dapat diperolehi oleh orang lain.
Apabila ia mula-mula mendengar khabar tentang kerasulan Nabi Muhammad s.a.w., dia telah menghantar saudara laki-lakinya untuk menyiasat dengan lebih mendalam mengenai orang yang mendakwa menerima berita dari langit.Setelah puas menyiasat, saudaranya pun melapurkan kepada Abuzar yang Nabi Muhammad s.a.w. itu seorang yang bersopan-santun dan baik budi pekertinya. Ayat-ayat yang dibaca kepada manusia bukannya puisi dan bukan pula kata-kata ahli syair. Lapuran yang disampaikan itu masih belum memuaskan hati Abuzar. Dia sendiri keluar untuk mencari kenyataaan. Setibanya di Mekah, dia terus ke Baitul Haram. Pada masa itu dia tidak kenalNabi Muhammad s.a.w. dan memandangkan keadaaan pada masa itu dia berasa takut hendak bertanya darihal Nabi Muhammad s.a.w.Apabila menjelang waktu malam, dia dilihat oleh Ali r.a.hu. Oleh kerana dia seorang musafir Ali r.a.hu terpaksa membawa Abuzar kerumahnya dan melayani Abuzar sebaik-baiknya sebagai tetamu. Ali r.a.hu tidak bertanya sesuatu apa pun dan Abuzar bagi pihak dirinya pun tidak memberitahukan Alitentang maksud kedatangannya ke Mekah. Pada keesokan harinya Abuzar pergi sekali lagi ke Baitul Haram untuk mengetahui siapa dia Muhammad. Sekali lagi Abuzar gagal menemui Nabi Muhammad s.a.w. kerana pada masa itu orang-orang ISLAM sedang diganggu hebat oleh kafir-kafir musrikin. Bagi malam yang keduanya Ali r.a.hu membawa Abuzar kerumahnya. Pada malam yang kedua ini pun Ali r.a.hu tidak bertanya hal Abuzar, tetapi pada malam ketiga Ali r.a.hu bertanya:"Saudara, apakah sebabnya saudara datang ke kota ini?"

Sebelum menjawab, Abuzar meminta Ali r.a.hu berjanji supaya bercakap benar. Kemudian ia pun bertanya kepada Ali r.a.hu tentang Nabi Muhammad s.a.w. Ali r.a.hu berkata sebagai menjawab soalan Abuzar:"Dia sesungguhnya PESURUH ALLAH. Esok engkau ikut saja aku dan aku akan membawa kamu menjumpainya. Tetapi awas bencana yang buruk akan menimpai kamu kalau perhubungan kita ditahui orang. Semasa berjalan esok kalau aku dapati bahaya mengancam kita aku akan berpisah agak jauh sedikit daripada kamu dan berpura-pura membetulkan kasutku, tetapi engkau terus berjalan supaya orang tidak mensyaki perhubungan kita."

Pada esoknya itu Ali r.a.hu pun membawa Abuzar bertemu dengan Nabi Muhammad s.a.w. Tanpa banyak soal-jawab, dia telah memeluk agama ISLAM. O;eh kerana takut kalau-kalau dia diapa-apakan oleh pihak musuh, Nabi Muhammad s.a.w. pun menasihatinya supaya lekas balik dan supaya jangan mengistiharkan pengislaman di khalayak ramai, tetapi Abuzar dengan berani menjawab:"Ya Rasulullah, aku bersumpah dengan Allah yang jiwaku ditanganNya bahawa aku akan mengucap KALIMAH SYAHADAH dihadapan kafir-kafir musyirikin itu."

Janjinya pada Nabi Muhammad s.a.w. ditepatinya. Selepas ia meninggalkan Bagimda dia mengarahkan langkahnya ke Baitul Haram dimana dihadapan kaum musyrikin dan dengan suara yang lantang dia telah mengucapkan DUA KALIMAT SYAHADAH

"AKU MENYAKSIKAN YANG TIADA TUHAN MELAINKAN ALLAH DAN AKU MENYAKSIKAN YANG MUHAMMAD ITU PESURUH ALLAH."

Apatah lagi, demi didengarinya ucapan Abuzar itu, orang-oarang kafir pun menyerbuinya lalu memukulnya. Kalau tidaklah kerana Abbas, (ayah saudara Nabi Muhammad s.a.w. yang ketika itu belum memeluk agama ISLAM ) Abuzar sudah tentu menemui ajalnya.Kata Abbas kepada kafir-kafir musyirikin yang menyerang Abuzar:"Tahukah kamu siapa orang ini? Dia ialah dari puak Ghifar. Khalifah-khalifah kita yang berulang alik ke Sham terpaksa melalui perkampungan mereka. Kalaulah ia dibunuh, mereka sudah tentu akan menghalang perniagaan kita dengan Sham."

Pada hari yang berikutnya Abuzar sekali lagi mengucap DUA KALIMAT SYAHADAH dihadapan kafir-kafir Quraish dan pada kali ini juga ia telah diselamatkan oleh Abbas.Keghairahan Abuzar mengucap DUA KALIMAH SYAHADAH dihadapan kafir-kafir Khuraish sungguh-sungguh luar biasa kalau dikaji dalam kontek larangan Nabi Muhammad s.a.w. kepadanya. Apakah dia boleh dituduh sebagai telah mengingkari perintah Nabi Muhammad s.a.w.

Jawabnya-TIDAK. Dia tahu yang Nabi Muhammad s.a.w. sedang mengalami penderitaan yang berbentuk gangguan dalam usahanya kearah menyibarkan agama Islam. Dia hanya hendak mencontohi Nabi Muhammad s.a.w. walaupun dia mengetahui dengan berbuat demikian dia mendedahkan dirinya kepada bahaya. Semangat keislaman yang sebeginilah yang telah membolehkan para sahabat mencapai puncak kejayaan dalam alam lahiriah serta batiniah. Keberanian Abuzar ini sudah selayaknya dicontohi oleh umat Islam dewasa ini didalam rangka usaha mereka menjalankan dakwah Islamiah. Kekejaman, penganiayaan serta penindasan tidak semestinya melemahkan semangat mereka yang telah mengucapkan Dua Khalimah Syahadah

Sabtu, 21 Ogos 2010

Misteri Ikan Tapah

IKAN TAPAH


Ingatkah lagi anda kepada cerita Tuk Kaduk? Tuk Kaduk, lagenda humor tempatan. Di mana Tuk Kaduk, seorang pemimpin politik yang gemar bertaruh dalam perlawanan melaga/sabung ayam. Beliau sanggup mempertaruhkan kawasan jajahannya kepada Raja. Malah, sanggup bertukar ayam dengan lawannya sendiri. Kesudahannya, Tuk Kaduk "menang sorak, tapi kampung tergadai".

Pernahkah anda terfikir apa kesudahan cerita tersebut? Yup, selepas Tuk Kaduk tu kalah dan tergadai kampung halaman, dia terus masuk dalam hutan dengan rasa kecewa yang teramat. Kini Tuk Kaduk sudah papa kedana dan juga kelaparan. Apakan daya, sudah kalah bertaruh. Akhirnya, Pak Kaduk tertidur dalam keadaan lapar.

Tiba-tiba, Tuk Kaduk dikejutkan oleh seekor makhluk berbulu. Apabila Tuk Kaduk terjaga, beliau mendapati makhluk berbulu itu adalah seekor kucing hitam yang sangat comel. Kucing itu seolah-olah ingin menunjukkan sesuatu kepada Tuk Kaduk. Lalu beliau mengekori kucing itu.

Kucing hitam yang sangat cute itu telah membawa Tuk Kaduk sehingga ke arah satu tebing sungai. Di situ, Tuk Kaduk mendapati ada seekor ikan tapah terdampar cantik tepi tebing sungai tu. Disebab beliau sudah lapar gile, Tuk Kaduk pun segera mendapatkan ikan tapah itu.

Apabila Tuk Kaduk membelah perut ikan tapah itu, alangkah terkejutnya beliau kerana di dalam perut ikan tapah itu ada banyak emas!!!

Tanpa melengahkan masa Tuk Kaduk telah mengambil semua emas di dalam perut ikan tapah itu, dan kemudian menjahit semula perut ikan tapah itu. Ikan tapah tersebut telah dicampak semula ke dalam sungai. Ketika itu, Tuk Kaduk telah bersumpah (orang melayu pada masa zaman itu belum memeluk Islam) bahawa keturunannya tidak boleh makan dan menyentuh ikan tapah ini. Selepas itu, dengan emas-emas yang ada, Tuk Kaduk kembali ke pentas politik ketika itu dan mengambil semula kawasan jajahannya (lebih kurang macam Dato Seri Anwar Ibrahim make a come back gitu2).

Sehingga kini, sumpahan terhadap keturunan Tuk Kaduk ini masih berkekalan. Di mana keturunannya tidak boleh makan dan menyentuh ikan tapah ini. Kononnya, jika mereka melanggar sumpah/pantang ini, mereka akan terkena penyakit kulit yang bernama SEMALI iaitu pecah-pecah kulit berair dan gatal-gatal. Di samping itu, kulit mereka akan melecur, sakit sendi dan tulang.

Dalam satu kes yang pernah terjadi di mana salah seorang dari anggota keluarga berketurunan Tuk Kaduk ini terkena air percikan dari ikan tapah ni di pasar basah. Seperti tertera dalam lagenda, penyakit kulit telah naik di kaki dia. Berminggu-minggu tidak boleh sembuh. Akhirnya, dia terpaksa pulang ke Kampung di Lambor Kanan, di mana emas Tuk Kaduk masih ada disimpan untuk tujuan perubatan. Emas Tuk Kaduk direndam dalam air, dan air rendaman itu diminum dan disapukan ke atas kulit itu. Beberapa hari selepas itu, kulit dia pulih...

Keturunan Tuk Kaduk ini berasal daripada Lambor Kiri, Lambor Kanan, Bota Kanan, Bota Kiri dan Pulau Tiga yang terletak di Perak Tengah. Di sinilah asal usul keturunan aku.... herm...

Rabu, 4 Ogos 2010

HADIS PEDOMAN KITA (3)



عَنْ أَبي عَبْدِ الرَّحمنِ عبدِ الله بْنِ عُمَرَ بْنِ الخطابِ رضي الله عَنْهُمَا قَالَ: سَمِعْتُ رَسُوْلَ ا للهِ
صَلَّى اللهُ عَليهِ وَسَلَّمَ یَقُولُ: (( بُنِيَ الإِسْلاَمُ عَلَى خَمْسٍ: شهادَةِ أَنْ لاَ إِلهَ إِلاَّ الله وَأَنَّ مُحمدً ا
رَسُولُ الله، وَإِقَامِ الصَّلاةِ، وَإِیْتَاءِ الزَّآَاةِ، وَحَجِّ الْبَيْتِ، وَصَوْمِ رَمَضَانَ )). رواه البخاري
ومسلم.
Daripada Abu Abdul Rahman Abdullah ibn 'Umar ibn al-Khatthab ( رضي الله عنهما ) beliau berkata: Aku
telah mendengar Rasulullah SAW bersabda:

lslam itu teribna atas lima perkara: Naik saksi mengaku bahawa sesungguhnya tiada Tuhan melainkan
Allah dan bahawa sesungguhnya Muhammad itu adalah Utusan Allah, Mendirikan sembahyang,
mengeluarkan zakat, mengerjakan haji ke baitulLah dan menunaikan puasa pada bulan Ramadhan.

Hadis riwayat al-lmam al-Bukhari dan al-lmam Muslim (Al-Imam al-Bukhari meriwayatkannya dalam Kitab (al-
Iman) bab
باب الإیمان وقول النبي صلى الله عليه وسلم بني الإسلام على خمس)) ) hadis nombor 8. Al-Imam Muslim dalam bab ( باب بيان
أرآان الإسلام ودعائمه العظام) hadis nombor 16).

Pokok Perbincangan Hadis :

1) Binaan Islam :
Diibaratkan sebagai penyelamat manusia yang mengeluarkannya dari daerah kekufuran dan
melayakkannya masuk syurga serta jauh dari neraka.
Struktur binaan yang kemas dan kukuh dengan asas-asas dan cabang-cabangnya.

2) Ikatan Antara Rukun-Rukun Islam :
Sempurna iman bagi yang menerima sepenuhnya.
Bagi yang menolak semuanya - hukumnya kafir
Sesiapa yang ingkar salah satu - bukan muslim (ijma)
Sesiapa yang menerima tapi malas melakukannya (kecuali syahadah) - fasiq
Sesiapa yang melakukan dan iqrar secara pura-pura - munafiq

3) Matlamat Ibadat :
Syahadah - syarat diterima amalan lain.

Solat - penghubung antara hamba dengan tuhannya - pertama dihisab .

Zakat - suburkan harta/ berkat - sucikan diri.

Haji - tidak harus bagi orang yang berkemampuan untuk itu melewatkan pemergiannya - wajib
segerakan.

Haji Mabrur merupakan sebaik-baik jihad.

Puasa - syahwat dikengkang/ maksiat terhindar - sebab kepada ketinggian darjah di sisi Allah.
Pengajaran hadis:

Hadis ini juga menerangkan tentang rukun lslam lima perkara. Hadis ini mengumpamakan lslam
sebagai sebuah binaan yang tertegak megah dengan lima batang tiang. Tanpa lima perkara ini lslam
seseorang akan goyah dan runtuh. lni membayangkan betapa rukun-rukun ini mestilah ditegakkan oleh
setiap muslim dengan penuh ikhlas dan tanggungjawab. Menegakkan rukun lslam bermakna
kesempurnaan, keteguhan, keutuhan dan keelokan binaan lslam sebaliknya kecuaian bererti
keruntuhan, kehancuran dan kemusnahan lslam.

Sabtu, 17 Julai 2010

NABI MUHAMMAD S.A.W. MEMARAHI SAHABAT-SAHABAT YANG KETAWA

Pada suatu ketika apabila Nabi Muhammad s.a.w. sampai kemasjid untuk mendirikan solat, Baginda s.a.w. dapati beberapa orang sahabat sedang gelak ketawa. Baginda s.a.w. berkata: "Kalau kamu selalu mengingati maut sudah tentu aku tidak mendapati kamu semua dalam keadaan demikian. Pada setiap masa kamu hidup kamu mesti mengingati maut. Setiap waktu tanah perkuburan memekik mengatakan:' Aku ini merupakan semak samun. Aku dipenuhi dengan debu. Aku ini penuh dengan serangga. '

Apabila seorang mukmin dikebumikan didalamnya, bumi berkata 'Aku ucapkan selamat datang kepada mu. Diantara manusia yang bertebaran atas muka bumi ini, engkaulah yang paling aku sukai. Baik sungguh hatimu kerana mahu memasuki ku. Sekarang lihatlah bagaimana aku menghiburkan hatimu?'

Kemudian bumi membesar sejauh mata memandang. Sebuah pintu syurga terbuka dihadapannya. Melalui pintu inilah bau-bauan yang semarak harumnya menyusupi lubang hidungnya.

Tetapi apabila seorang yang jahat dimasukkan kedalamnya, bumi akan berkata:'Tidak ada kata alu-aluan buatmu. Diantara manusia yang hidup didunia, engkaulah yang paling aku benci. Sekarang lihatlah layanan aku terhadapmu.'

Kemudian ia dihimpit oleh bumi sehingga tulang-tulang rusuknya saling bertikam tikaman dan berselisih antara satu sama lain. Sebanyak tujuh puluh ekor ular akan mematuknya sehingga hari kiamat.Ular-ular ini terlalu berbisa hinggakan kalau seekor sahaja menyemburkan bisanya dipermukaan bumi maka sehelai rumput pun tidak akan tumbuh.Kemudian Nbi Muhammad s.a.w berkata: "Kubur boleh merupakan syurga ataupun neraka."

Sifat takut kepada Allah s.w.t. pasti terdapat pada manusia yang benar-benar beriman. Sifat takut ini dapat diwujudkan dan dipupuk sehingga ia tumbuh dengan suburnya kalau kita dalam kehidupan kita sehari-hari dapat mengingati akan MATI !!!

Jumaat, 18 Jun 2010

KISAH TIGA ORANG MUKMIN YANG TIDAK MENYERTAI NABI KE TABUK




Diantara puak munafikin jumlah yang tidak menyertai gerakan keTabuk boleh dikatakan banyak juga. Bukan sahaja mereka gagal menyahut seruan Nabi Muhammad s.a.w. malah mereka cuba mempengaruhi orang-orang lain supaya berbuat demikian.

Kata mereka: "Janganlah berpergian dalam keadaan panas" (SURAH AT-TAUBAH ayat 81)

Allah s.w.t. menjawab: "API NERAKA LEBIH PANAS LAGI"

Diantara orang-orang yang beriman pula seperti mana yang telah dikatakan tadi, hanya tiga orang sahaja yang tidak menyertai tentera Muslimin. Mereka ini ialah Murarak bin Rabi, Hilal bin Umayyah dan Ka'ab bin Malik. Murarah tidak bersama-sama Nabi Muhammad s.a.w. dan sahabatnya kerana buah-buah tamar dikebunnya telah masak dan terpaksa dikutip. Dia menyangka yang penyertaannya dalam lain-lain peperangan terdahulu daripada ini dapat melepaskan dirinya daripada peperangan yang sedang dihadapi. Disini dia telah melakukan kesalahan mementingkan hartanya daripada Allah s.w.t.. Apabila dia menyedari kesalahannya dia mendermakan kebunnya kepada orang. Akan Hilal pula dia sibuk mendampingi kaum keluarganya yang pulang ke Madinah selepas meninggalkan kota itu beberapa ketika lamanya. Seperti Murarah, dia juga telah menyertai beberapa peperangan yang terdahulu.Ternyata yang Hilal telah melakukan kesalahan mementingkan kaum keluarga nya daripada Allah s.w.t.. Setelah menyedari kesalahannya dia telah emmutuskan perhubungan dengan kaum kerabatnya. Mengenai Ka'ab pula, dengarlah cerita seperti yang diceritakan olehnya sendiri. Cerita Ka'ab ini terkandung didalam semua buku-buku Hadis. Katanya:

"Semasa berlaku gerakan keTabuk keadaan hidup aku agak mewah.Aku mempunyai dua ekor unta kepunyaan saya sendiri. Sebelum ini saya tidak pernah memiliki bilangan unta seperti tersebut tadi. Telah menjadi amalan Nabi Muhammad s.a.w. yang ia tidak suka memberitahu kepada umum tentang tempat yang ditujui oleh gerakan tentera Muslimin, tetapi sekali ini oleh kerana jauhnya perjalanan yang mensti ditempuhi, kerana musim kemarau pada masa itu dan oleh kerana kekuatan tentara kafir, ia terpaksa menceritakan segala-galanya agar persiapan-persiapan dapat diperbuat dengan sempurnanya. Orang-orang yang bakal memnyertai pergerakan keTabuk terlalu banyak sehingga tidak mungkin diketahui nama-nama mereka semuanya. Demikian juga payahnya untuk mengetahui nama-nama meraka yang tidak menyertai Nabi Muhammad s.a.w.. Pada ketika itu kebun-kebun diMadinah telah penuh dengan buah-buah yang telah masak.Tiap-tiap pagi saya bercita-cita hendak membuat persiapan-persiapan agar dapat menyertai tentera Muslimin, tetapi entah bagaimana keazaman saya itu tidak menjadi kenyataan. Saya ketahui benar-benar yang saya dapat menyertai mereka bila-bila masa sahaja. Dalam keadaan saya yang demikianlah maka berita mengenai keberangkatan tentera Muslim telah sampai kepengetahuan saya. Saya masih berpendapat yang saya mendahului mereka sekiranya saya dapat bersiap sedia dalam sehari-dua."

"Penangguhan saya untuk melakukan sesuatu yang tegas berlanjutan sehingga tibalah masanya tentera-tentera Muslimin hampir tiba diTabuk. Dalam keadaan yang demikian pun saya masih juga menangguh-nangguh.Tiba-tiba apabila saya melihat orang-orang yang tertinggal diMadinah saya menyedari yang kebanyakkan daripada mereka ini terdiri daripada kaum-kaum munafikin dan mereka yang telah sengaja diuzurkan oleh Nabi Muhammad s.a.w. kerana sebab-sebab yang tertentu. Setibanya Nabi Muhammad s.a.w. keTabuk, Baginda s.a.w. pun bertanya: 'Mengapa aku tidak melihat Ka'ab?" Jawab salah seorang daripada para sahabat: " Ya Nabi Muhammad s.a.w., kebanggaannya kepada harta dan kesenangan kehidupannya telah menyebabkan dia tertinggal kebelakang.' Maaz mencelah sambil berkata:"Tidak, Ini tidak mungkin. Setahu kami dia adalah seorang Mukmin yang sebenar-benarnya." Nabi Muhammad s.a.w. tidak mengeluarkan sepatah katapun."

Ka'ab meneruskan ceritanya:

"Selepas beberapa hari saya pun mendengar berita mengenai kepulangan Nabi Muhammad s.a.w. saya tiba-tiba dirundungi oleh perasaan sedih dan kesal yang maha hebat. Beberapa alasan iaitu yang mungkin dikemukakan kepada Nabi Muhammad s.a.w. mengelakkan kemurkaan Baginda s.a.w. terbayang-bayang dikepala saya. Saya juga telah meminta nasihat daripada orang-orang yang cerdik pandai dikalangan keluarga saya, tetapi akhirnya alasan-alasan ini saya ketepikan dan saya membuat keputusan hendak bercakap benar kepada Nabi Muhammad s.a.w.Telah menjadi kebiasaan Rasulullah s.a.w.., apabila Baginda s.a.w.balik dari suatu perjalanan Nabi Muhammad s.a.w. akan singgah dimasjid untuk mendirikan Solat Tahyatul Masjid serta beramah mesra dengan pelawat-pelawatnya. Pada ketika ini datanglah orang munafik bersumpah-sumpah sambil memberi sebab-sebab mengapa mereka tidak menyertai Nabi Muhammad s.a.w. keTabuk. Nabi Muhammad s.a.w.menerima saja alasan-alasan yang diucapkan oelh lidah-lidah mereka sedangkan kandungan batin mereka tinggalkan kepada Allah s.w.t.untuk membereskannya. Kemudian saya pun tibalah untuk menemui Rasulullah s.a.w. lantas memberi salam kepada Baginda s.a.w.. Suatu senyuman yang tawar, Baginda s.a.w. menolehkan mukanya kearah lain. Saya berkata:" Wahai Rasulullah ,Tuan memalingkan muka Tuan dari saya.Demi Allah s.w.t., saya bukannya munafik dan saya tidak meragui kebenaran agama saya." Baginda s.a.w. menyuruh saya mendekati lalu bertanya: "Apa yang menghalangi kamu? Bukankah kamu telah membeli unta?" Saya menjawab: "Ya Rasulullah s.a.w., kalau kepada orang lain sudah tentu saya dapat memberi alasan-alasan yang sesuai kerana Allah s.w.t. telah mengurniakan saya dengan kefasihan bercakap, tetapi kepada Tuan, walaupun saya dapat memberi keterangan-keterangan dusta yang memuaskan hati Tuan, sudah tentu Allah s.w.t. akan memurkai saya. Sebaliknya kalau saya menimbulkan kemarahan Tuan dengan bercakap benar saya percaya lambat-laun kemarahan Tuan itu akan dihapuskan oleh Allah s.w.t. . Oleh itu saya bercakap benar. Demi Allah s.w.t. saya tidak ada sebarang alasan pun sedangkan pada masa itu hidup saya mewah." Kata Nabi Muhammad s.a.w."Dia sedang bercakap benar." Kemudian Baginda s.a.w berkata: "Pergilah kamu dan Allah s.w.t.. akan menentukan sesuatu bagi kamu."

Apabila saya meninggalkan Nabi Muhammad s.a.w.. orang-orang dari puak saya telah menyalahi saya kerana telah bercakap benar dihadapan Rasulullah. Kata mereka: Kamu sebelum ini tidak pernah melakukan sebarang kesalahan . Kalaulah setelah memberi satu-satu alasan yang sesuai, kamu meminta Nabi Muhammad s.a.w. berdoa untuk diampunkan oleh Allah s.w.t., yang demikian itu sudah tentu mencukupi. "Kemudian saya bertanya kalau-kalau ada orang yang hal keadaannya seperti saya. Mereka menceritakan mengenai Hilah bin Umayyah dan Murarah bin Rabi. Mereka juga telah mengakui kesalahan mereka dan menerima jawapan yang sama. Saya tahui yang mereka ini adalah penganut-penganut agama Islam yang sejati dan telah mengambil bahagian dalam Peperangan Badar. Nabi Muhammad s.a.w. sudah memerintahkan supaya kami bertiga dipulaukan.Tidak ada seorang pun yang berani bergaul dan bercakap-cakap dengan kami. Pada masa itu saya berasa seolah-olah saya tinggal berdagang dirantau orang. Kawan-kawan berkelakuan seperti orang asing. Dunia yang begitu luas menjadi sempit. Kalau saya mati Nabi Muhammad s.a.w. tidak akan mengimami sembahyang jenazah saya. Sebaliknya kalau Baginda s.a.w. wafat sudah tentu pemboikotan yang dikenakan keatas saya akan berterusan sehingga keakhir hayat saya. Kawan-kawan saya yang berdua itu tidak menampakkan diri mereka diluar rumah sedangkan saya memberanikan diri dengan berjalan-jalan dipasar dan bersembahyang berjemaah tetapi saya tidak dihiraukan oleh sesiapa pun. Kadang-kadang saya memberanikan diri menghampiri Nabi Muhammad s.a.w. sambil memberikan salam. Saya menunggu-nuggu jawapannya dengan penuh harapan.Kerapkali selepas menunaikan solat fardhu saya akan menunaikan solat sunnat berhampiran dengan Nabi Muhammad s.a.w. kerana ingin mengetahui sama ada Baginda s.a.w. akan memandang saya atau tidak. Ya, Baginda s.a.w. memandangkan saya semasa berada dalam sembahyang. Diluar sembahyang Baginda s.a.w. memalingkan pandangannya dari saya."

"Pada suatu hari apabila saya rasa yang saya tidak dapat lagi menderitai pemulauan sosial yang dikenakan keatas saya, saya telah memanjat tembok kebun sepupu saya,Qatadah. Saya mengucapkan salam kepadanya tetapi dia tidak menjawab. Saya menggesanya supaya menjawab hanya satu soalan sahaja. Saya bertanya:"Engkau tahu atau tidak yang aku mencintai Allah s.w.t. dan RasulNya?" Soalan saya itu terpaksa diulangi sebanyak tiga kali. Pada kali yang ketiganya baharulah dia menjawab:" Hanya Allah s.w.t.dan RasulNya yang mengetahui." Mendengar jawapannya itu saya menangis lalu meninggalkannya."

"Pada suatu ketika sedang saya melalui sebatang jalan di Madinah, saya terpandang akan seorang Kriastian bangsa Mesir yang telah datang dari Sham. Rupa-rupanya orang itu sedang mencari saya. Apabila orang ramai disitu menunjukkan saya dia pun menghampiri saya sambil menyerahkan sepucuk surat daripada Raja Keristian yang memerintah Ghassan. Surat itu berbunyi:" Kami telah mengetahui akan penganiayaan yang kamu perolehi dari ketua kamu. Allah s.w.t. tidak akan membiarkan kamu dalam keadaan hina dan malu. Eloklah kamu menyertai kami dan kami akan memberi segala pertolongan kepada kamu." Apabila saya membaca surat ini saya mengucapkan:"INNA LILLAHI WA INNA ILAIHI RAJIUN." Demikianlah hal keadaan saya sehingga orang-orang kafir menyangka yang saya akan murtad. Saya tidak dapat membayangkan segala kecelakaan yang menimpa diri saya. Dengan serta merta saya mencampakkan surat itu kedalam api dan saya pun terus pergi berjumpa dengan Nabi Muhammad s.a.w. Kata saya:"Ya Rasulullah s.a.w., saya telah tergelincir didalam jurang kehinaan yang amat dahsyat sehinggakan orang-orang kafir menyangka yang saya akan murtad."


"Selepas empat puluh hari pemboikotan itu berjalan seorang utusan Nabi Muhammad s.a.w. mendatangi saya dengan membawa satu perintah baru dari Nabi Muhammad s.a.w. Saya diperintahkan supaya berpisah dari isteri saya. Saya bertanya kepada utusan itu sama ada isteri saya terpaksa diceraikan. Dia hanya menmyuruh saya berpsah dari isteri saya. Perintah yang sama diberikan kepada sahabat-sahabat yg berdua itu. Kata saya kepada isteri saya:"Pergilah kamu tinggal bersama-sama orangtuamu sehingga Allah s.w.t. menetukan sesuatu bagiku." Isteri Hilal pun telah pergi berjumpa dengan Nabi Muhammad s.a.w. sambil mengadu kepada Baginda s.a.w :"Ya Rasulllah,Hilal sudah tua dan tidak ada orang untuk menjaganya. Kalau aku meninggalkannya sudah tentu dia akan mati. Izinkan aku supaya menjagainya."Nabi Muhammad s.a.w. menjawab: "Baiklah tetapi jangan melakukan perhubungan jenis." Kata isteri Hilal:"Ya Rasulullah ,dia sudah tidak ada keinginan semenjak pemulauan dikenakan keatasnya. Dia menghabiskan masanya dengan menangis."

Ada orang yang mecadangkan kepada saya supaya meminta kebenaran daripada Nabi Muhammad s.a.w. untuk membolehkan isteri saya tinggal bersama-sama saya tetapi saya enggan berbuat demikian kerana saya masih muda sedangkan Hilal sudah tua. Lagi pula saya tidak berani membuat permintaan yang demikian. Sehingga ini pemulauan telah dijalankan keatas kami selama lima puluh hari.

Pada pagi yang kelima puluh itu sedang saya duduk-duduk diatas bumbung rumah saya, setelah melakukan Solat Faja, saya terdengar orang menjerit dari kemuncak bukit Salak. "Ada berita gembira buat kamu ya Ka'ab." Sebaik sahaja saya mendengar berita itu saya pun bersujud dengan gembiranya sambil mengucapkan syukur kepada Allah s.w.t.. Saya tahu yang saya telah perolehi keampunan daripada Allah s.w.t.. Sebenarnya Nabi Muhammad s.a.w. mengistiharkan keampunan Allah s.w.t. kepada kami bertiga selepas solat Subuh itu.Kemudian datang pula seorang penunggang kuda membawa berita yang sama. Oleh kerana kegembiraan yang amat sangat saya telah menghadiahkan pakaian yang terlekat dibadan saya kepada pembawa berita gembira itu.Pada masa itu saya hanyai miliki pakaian yang sedang saya pakai tadi. Oleh hal yang demikian saya meminjam sehelai pakaian dari sahabat saya dan memakai pakaian itu dan saya terus pergi berjumpa dengan Rasulullah s.a.w.. Apabila saya tiba dimasjid orang-orang yang sedang berbual-buak dengan Rasulullah s.a.w. datang menerpa dan memegang tangan saya sambil mengucapkan tahniah. Orang yang mula-mula mengucapkan tahniah kepada saya ialah Talhah.Kemudian saya pun menyampaikan salam kepada Nabi Muhammad s.a.w. . Muka Baginda s.a.w. berseri-seri dengan cahaya kegembiraan. Saya berkata kepada Baginda s.a.w. :"Ya Rasulullah, saya bercadang hendak mendermakan semua harta saya sebagai mengucapkan syukur kepada Allah s.w.t. yang telah sudi menerima taubat saya." Baginda s.a.w.. berkata: "Janganlah habiskan semua harta kamu. Tinggalkan sedikit untuk kepentingan dirimu." Saya pun mendermakan harta saya kecuali rampasan yang diperolehi dalam Peperangan Khaibar."

"Kebenaran telah menyelamatkan saya dan oleh itu saya berazam hendak bercakap benar pada setiap masa."

Kisah diatas dengan jelas menunjukkan sifat-sifat yang sepatutnya terdapat pada semua penganut-penganut Islam yang bernar-benar beriman.

1) Pentingnya berusaha dijalan Allah s.w.t. Orang yang selama ini telah mematuhi segala perintah Allah s.w.t. dan yang telah menyertai semua peperangan menetang musuh pun terpaksa menanggung penderitaan akibat kesalahan yang dilakukan hanya sekali sahaja.

2) Kepatuhan menjunjung perintah Nabi Muhammad s.a.w. Selama lima puluh hari masyarakat Islam termasuk kaum kerabat dan sanak saudara serta sabahat handai mereka sendiri telah memulau Ka'ab dan kawan-kawannya pula telah menjalani hukuman dengan pebuh ketaatan. Dengan lain-lain perkataan, yang memulau pada suatu pihak dan yang kena pulau disuatu pihak yang lain masing-masing mematuhi arahan Nabi Muhammad s.a.w.

3) Keimanan yang teguh Ka'ab telah menerima surat dari seorang raj Kristian yang cuba mempengaruhinya supaya melakukan kemungkaran. Perkataan-perkataan dan perbuatannya selepas menerima surat itu merupakan bukti yang nyata mengenai keteguhan imannya.

Sekarang marilah kita memeriksa perbadi kita sendiri untuk menentukan banyak atau sedikitnya kepatuhan yang terdapat pada diri kita. Adakah kita mematuhi segala perintah-perintah Allah s.w.t.? Adakah kita mendirikan sembahyang- Perintah Allah s.w.t. yang paling sedikit memakan belanja? Adakah kita berasa sedih apabila meninggalkannya?

Ahad, 6 Jun 2010

CONTOH TAKWA YANG DIPERTUNJUKKAN OLEH ABU BAKAR




Tidak syak lagi bahawa Abu Bakar r.a.hu merupakan manusia yang paling tinggi mertabatnya dikalangan para sahabat. Nabi Muhammad s.a.w. sendiri pernah menyampaikan berita gembira mengenai kedudukannya yang utama diantara penguni-penghuni syurga yang maha mulia.

Kata Nabi Muhammad s.a.w.:"Nama Abu Bakar akan diseru daripada segenap pintu syurga dan dialah pengikutku yang pertama akan memasukinya."

Namun demikian perasaan takutnya kepada Allah s.w.t. tetap bertakhta dikalbunya. Dia sering berkata: "Alangkah baiknya kalau aku menjadi sebatang pokok yang ditebang dan dijadikan kayu api" Kadang-kadang dia berkata: "Alangkah baiknya kalau aku ini sehelai rumput yang riwayat hidupnya akan tamat apabila dimakan oleh seekor binatang ternakan."

Pada suatu hari dia telah pergi kesebuah taman dimana ia lihat seekor burung sedang berciap-ciap. Katanya: "Wahai burung! Sungguh bertuah kamu. Kau makan minum dan bertebangan dibawah naungan pokok-pokok kayu tanpa sebarang perasaan takut tentang hari perkiraan Aku ingin menjadi seperti engkau,wahai burung."

Rabi'ah Aslami r.a.hu telah bercerita:

"Pada suatu hari saya telah bertentangan dengan Abu Bakar. Semasa pertengkaran itu berjalan, dia telah mengeluarkan sepatah perkataan kesat terhadap saya. Dengan serta-merta itu juga, dia telah menyedari akan kesalahannya itu lalu berkata: "Wahai saudara, gunakanlah perkataan itu terhadap saya sebagai tindakan balas."

Saya enggan berbuat demikian. Dia menggesa-gesakan saya supaya menggunakan perkataan kesat tadi dan berkata hendak merujukkan perkara itu kepada Nabi Muhammad s.a.w. Saya tidak juga mahu mengalah. Dia lalu bangun lalu meninggalkan saya. Beberapa orang ahli dari puak saya yang menyaksikan peristiwa tadi mencemuh: "Ganjil betul orangnya, dia yang melakukan kesalahan dan dia pula mengancam hendak mengadu kepada Nabi Muhammad s.a.w.

Saya dengan segera menyampuk: " Kamu tahukah siapa dia? Dia adalah Abu Bakar. Menyinggungnya bererti menyinggung Nabi Muhammad s.a.w. dan menyinggung Nabi Muhammad s.a.w. bererti menyinggung Allah s.w.t., kalau perbuatan aku menyinggung Allah s.w.t., siapakah gerangannya yang akan menyelamatkan aku?"

Saya pun bangun lantas pergi menghadap Nabi Muhammad s.a.w. kepada Nabi Muhammad s.a.w. saya bercerita apa yang telah berlaku. Kata Nabi Muhammad s.a.w.:"Keengganan kamu mengeluarkan kata-kata kesat itu sudah kena pada tempatnya, tetapi untuk mengeluarkan penderitaan batinnya, kamu sekurang-kurangnya dapat berkata: "Semoga Allah s.w.t mengampuni kamu wahai Abu Bakar."

Begitulah takwa yang telah dipertunjukkan oleh Abu Bakar. Keengganannya menerima pembalasan dialam akhirat menyebabkan dia memaksa Rabiah Aslami supaya mengambil tindakan balas terhadapnya. Kekesalannya dan penderitaan batinnya akibat kesalahannya itu sedemikian rupa sehingga dia sanggup menceritakan segala-galanya kepada Nabi Muhammad s.a.w. dengan harapan Nabi Muhammad s.a.w. dapat menolong. Bagaimanakah pula perasaan kita, ummat Islam kini selepas melakukan kesalahan yang seperti diatas? Kita seringkali melakukan kesalahan tanpa perasaan takut akan pembalasan sama ada didunia atau pun diakhirat nanti.

Jumaat, 4 Jun 2010

TEGURAN OLEH ABDULLAH BIN ABBAS


Diceritakan oleh Wahab bin Munabbah:

"Abdullah bin Abbas telah kehilangan penglihatannya semasa ia telah tua. Pada suatu hari aku telah memimpininya ke Masjidil Haram. Disana ia telah menedengar beberapa orang sedang bertengkar dengan suara yang lantang. Dia meminta supaya aku membawanya kehadapan mereka. Dia pun memberi salam kepada mereka, selepas membalas salamnya mereka mempersilakan ia duduk sambil melahirkan keengganannya berbuat demiakian, dia pun berkata:

"Izinkan aku menceritakan darihal hamba-hamba Allah s.w.t. yang sebenar-benarnya. Mereka adalah manusia yang tidak ingin berkata-kata kerana takutkan Allah s.w.t... Sungguhpun mereka tidak bisu dan sebaliknya dapat menggunakan bahasa dengan fasihnya tetapi oleh kerana selalu memuji-muji Allah s.w.t.. maka mereka tidak dapat memperkatakan sesuatu yang sia-sia. Apabila mereka tiba keperingkat keimanan yang demikian rupa maka mereka segera kearah kebaikan. Mengapakah kamu sekelian telah menyeleweng dari jalan ini? Selepas peristiwa ini aku tidak melihat manusia berkumpul di Masjidil Haram."

Kisah Abdullah bin Abbas ini menunjukkan kepada kita suatu jalan yang sebaik-baiknya untuk mencapai kebaikan. Caranya ialah dengan memikirkan tentang kebesaran Allah s.w.t. Kalau ini dapat dilakukan maka lain-lain perbuatan yang baik dapat dilakukan juga dengan senang dan penuh kejujuran.

Ahad, 30 Mei 2010

ISLAMNYA UMAR



Umar r.a.hu selepas ia memeluk agama Islam, menjadi kebanggaan orang-orang Islam dan musuh ketat kafir-kafir musyrikin tetapi sebelum itu dia menentang Nabi Muhammad s.a.w. dan mengganggu orang-orang yang menganuti Islam. Dalam suatu mesyuarat orang-orang Quraish, pada suatu hari mereka telah memutuskan hendak meminta salah seorang daripada mereka supaya membunuh Nabi Muhammad s.a.w.

Umar telah tampil kehadapan sebagai sukarelawan yang ingin mengusahakan pembunuhan itu. Tiap-tiap Quraish yang menghadiri mesyuarat itu berkata serentak"Ya, engkaulah yang dapat melakukannya,Umar!"

Dengan pedang yang bergantungan dilehernya, Umar pun mengarahkan langkah menuju ketempat kediamanNabi Muhammad s.a.w. Dalam perjalanannya ia telah menemui Saad bin Abi Waqqas. Saad berkata: "Kemana kau, Umar?"Umar menjawab: "Aku hendak pergi menamatkan riwayat hidup Nabi Muhammad " Saad: "Kalau begitu Banu Hashim, Banu Zuhrah dan Banu Abdi Manaf akan membunuh kamu sebagai tindakan balas."Umar(gelisah dengan amaran itu) berkata: "Nampaknya kau juga telah meninggalkan agama nenek moyang kau. Biar aku kerjakan kau dahulu."

Umar dengan serta merta menghunus pedangnya. Sambil mengistiharkan pengislamannya Saad juga berbuat demikian. Sebelum bertarung dengan Umar sempat juga berkata:"Lebih baik kau menguruskan rumahtangga kau dahulu. Saudara perempuan kau dan iparkau, kedua-duanya telah memeluk agama Islam"

Kemarahan Umar ketika mendapat cerita itu tak dapat diceritakan lagi. meninggalkan Saad, dia menggerakkan langkahnya kearah rumah saudara perempuannya. Setibanya dirumah itu dia dapati rumah itu telah berkunci dari dalam. Sambil mengetuk-ngetuk pintu itu dia menjerit dengan sekuat tenaga kepada saudaranya supaya pintu itu dibuka. Mendengar suara Umar, Khabbab telah lari bersembunyi meninggalkan masyaf-masyaf Quran yang sedang mereka baca. Apabila pintu dibuka Umar dengan cepat menempeleng saudaranya sambil berkata:"Hai pengkhianat dirimu sendiri, engkau juga telah meninggalkan agamamu."

Tanpa menghiraukan kepala saudaranya yang berdarah, dia masuk kedalam sambil bertanya: "Apakah kelian sedang buat tadi dan siapa dia orang yang suaranya aku dengar dari luar?" Iparnya menjawab:"Kami hanya berbual-bual." Umar bertanya kepada iparnya "Adakah kamu juga telah meninggalkan agama nenek moyang kamu dan memeluk agama baru?" Ipar Umar menjawab:" Bagaimana pula agama baru itu lebih baik dari agama kita yang lama itu?" Jawapan itu menyebabkan Umar memukul dengan kejam dan menarik-narik janggutnya. Saudaranya yang datang hendak melerai mereka juga dipukul sehingga mukanya berlumuran dengan darah. Sambil menangis saudara perempuannya berkata:"Umar! kami dipukul hanya kerana kami memeluk agama Islam. Kami berazam hendak mati sebagai orang-orang Islam Kau bebas melakukan apa saja yang kau suka atas diri kami."

Apabila hatinya sejuk sedikit dia berasa malu atas perbuatannya terhadap saudara perempuannya itu. Tiba-tiba ia terpandang akan masyaf-masyaf yang ditinggalkan oleh Khabbab tadi. Katanya:"Baiklah, tunjukkan masyaf-masyaf ini." "Tidak," kata saudaranya.: "Badan kau tak bersih dan orang yang tak bersih tak seharusnya memegang masyaf-masyaf ini." Umar akhirnya membersihkan badannya dan mula membca masyaf-masyaf tadi. Surah yang dibacanya ialah SURAH TAHA.Dia membaca dari permulaan surah itu.Seluruh sikap dan pandangannya berubah apabila ia sampai ke ayat yang bermaksud:

"Akulah Allah. Tidak ada Tuhan melainkan Aku. Oleh itu sembahlah Aku dan dirikanlah sembahyang buat mengingati Aku."

Kata Umar: "Baiklah, bawa aku bertemu dengan Muhammad "

Mendengar kata-kata Umar itu Khabbab pun keluarlah dari tempat persembunyiannya sambil berkata:"Ya Umar, ada berita baik untuk kamu. semalam (iaitu malam Juma'at)Nabi Muhammad s.a.w. telah berdoa kepada Allah s.w.t..: "Ya Allah, kuatkanlah Islam dengan Umar atau Abu Jahal, siapa yang Engkau suka.".Nampaknya Allah s.w.t. telah memilih engkau sebagai menunaikan permintaan Nabi Muhammad s.a.w.

Umar telah menemui Nabi Muhammad s.a.w. dan pada pagi Juma'at dia telah memeluk agama Islam Pengislaman Umar merupakan merupakan suatu pukulan yang hebat kepada puak musyrikin. Sungguh pun begitu bilangan orang Islam terlalu kecil kalau dibandingkan dengan bilangan puak musuh. Kafir-kafir musyrikin telah memperhebatkan usaha-usaha mereka untuk menghapuskan orang-orang Islam serta agama mereka. Dengan Islamnya Umar, kaum Muslimin telah bertambah berani dan sekarang mereka mendirikan sembahyang di Baitul Haram. Kata Abdullah bin Masud: "Pengislaman Umar merupakan suatu kejayaan besar kepada kaum Muslimin, perpindahannya menguatkan kami dan perlantikannya sebagai Khalifah merupakan suatu keberkatan kepada kami.:"

Khamis, 27 Mei 2010

KISAH NABI SALEH a.s



Tsamud adalah nama suatu suku yang oleh sementara ahli sejarah dimasukkan bahagian dari bangsa Arab dan ada pula yang menggolongkan mereka ke dalam bangsa Yahudi. Mereka bertempat tinggal di suatu dataran bernama "Alhijir" terletak antara Hijaz dan Syam yang dahulunya termasuk jajahan dan dikuasai suku Aad yang telah habis binasa disapu angin taufan yang di kirim oleh Allah s.w.t. sebagai pembalasan atas pembangkangan dan pengingkaran mereka terhadap dakwah dan risalah Nabi Hud a.s. Kemakmuran dan kemewahan hidup serta kekayaan alam yang dahulu dimiliki dan dinikmati oleh kaum Aad telah diwarisi oleh kaum Tsamud. Tanah-tanah yang subur yang memberikan hasil berlimpah ruah, binatang-binatang perahan dan lemak yang berkembang biak, kebun-kebun bunga yag indah-indah, bangunan rumah-rumah yang didirikan di atas tanah yang datar dan dipahatnya dari gunung. Semuanya itu menjadikan mereka hidup tenteram ,sejahtera dan bahgia, merasa aman dari segala gangguan alamiah dan bahawa kemewahan hidup mereka akan kekal bagi mereka dan anak keturunan mereka.

Kaum Tsamud tidak mengenal Tuhan. Tuhan mereka adalah berhala-berhala yang mereka sembah dan puja, kepadanya mereka berqurban, tempat mereka minta perlindungan dari segala bala dan musibah dan mengharapkan kebaikan serta kebahagiaan. Mereka tidak dapat melihat atau memikirkan lebih jauh dan apa yang dapat mereka jangkau dengan pancaindera.

Nabi Saleh Berdakwah Kepada Kaum Tsamud

Allah Yang Maha Pengasih dan Maha Penyayang tidak akan membiarkan hamba-hamba-Nya berada dalam kegelapan terus-menerus tanpa diutusnya nabi pesuruh disisi-Nya untuk memberi penerangan dan memimpin mereka keluar dari jalan yang sesat ke jalan yang benar. Demikian pula Allah s.w.t. tidak akan menurunkan azab dan seksaan kepada suatu umat sebelum mereka diperingatkan dan diberi petunjukkan oleh-Nya dengan perantara seorang yang dipilih untuk menjadi utusan dan rasul-Nya. Sunnatullah ini berlaku pula kepada kaum Tsamud, yang kepada mereka telah diutuskan Nabi Saleh seorang yang telah dipilih-Nya dari suku mereka sendiri, dari keluarga yang terpandang dan dihormati oleh kaumnya, terkenal tangkas, cerdik pandai, rendah hati dan ramah-tamah dalam pergaulan.

Dikenalkan mereka oleh Nabi Saleh kepada Tuhan yang sepatut mereka sembah, Tuhan Allah Yang Maha Esa, yang telah mencipta mereka, menciptakan alam sekitar mereka, menciptakan tanah-tanah yang subur yang menghasilkan bahan-bahan keperluan hidup mereka, mencipta binatang-binatang yang memberi manfaat dan berguna bagi mereka dan dengan demikian memberi kepada mereka kenikmatan dan kemewahan hidup dan kebahagiaan lahir dan batin. Tuhan Yang Esa itulah yang harus mereka sembah dan bukan patung-patung yang mereka pahat sendiri dari batu-batu gunung yang tidak berkuasa memberi sesuatu kepada mereka atau melindungi mereka dari ketakutan dan bahaya.

Nabi Saleh memperingatkan mereka bahawa ia adalah seorang daripada mereka, terjalin antara dirinya dan mereka ikatan keluarga dan darah. Mereka adalah kaumnya dan sanak keluarganya dan dia adalah seketurunan dan sesuku dengan mereka. Ia mengharapkan kebaikan dan kebajikan bagi mereka dan sesekali tidak akan menjerumuskan mereka ke dalam hal-hal yang akan membawa kerugian, kesengsaraan dan kebinasaan bagi mereka. Ia menerangkan kepada mereka bahawa ianya adalah pesuruh dan utusan Allah s.w.t. dan apa yang diajarkan dan didakwahkan kepada mereka adalah amanat Allah s.w.t. yang harus dia sampaikan kepada mereka untuk kebaikan mereka semasa hidup mereka dan sesudah mereka mati di akhirat kelak. Ia mengharapkan kaumnya mempertimbangkan dan memikirkan sungguh-sungguh apa yang ia serukan dan anjurkan dan agar mereka segera meninggalkan persembahan kepada berhala-berhala itu dan percaya beriman kepada Allah Yang Maha Esa seraya bertaubat dan mohon ampun kepada-Nya atas dosa dan perbuatan syirik yang selama ini telah mereka lakukan. Allah s.w.t. dekat kepada mereka mendengarkan doa mereka dan memberi ampun kepada yang salah bila dimintanya.

Terperanjatlah kaum Saleh mendengar seruan dan dakwahnya yang bagi mereka merupakan hal yang baru yang tidak diduga akan datang dari saudara atau anak mereka sendiri. Maka serentak ditolaklah ajakan Nabi Saleh itu seraya berkata mereka kepadanya: "Wahai Saleh! Kami mengenalmu seorang yang pandai, tangkas dan cerdas, fikiranmu tajam dan pendapat serta semua pertimbangan mu selalu tepat. Pada dirimu kami melihat tanda-tanda kebajikan dan sifat-sifat yang terpuji. Kami mengharapkan dari engkau sebetulnya untuk memimpin kami menyelesaikan hal-hal yang rumit yang kami hadapi, memberi petunjuk dalam soal-soal yang gelap bagi kami dan menjadi ikutan dan kepercayaan kami di kala kami menghadapi krisis dan kesusahan. Akan tetapi segala harapan itu menjadi meleset dan kepercayaan kami kepadamu tergelincir hari ini dengan tingkah lakumu dan tindak tandukmu yang menyalahi adat-istiadat dan tatacara hidup kami. Apakah yang engkau serukan kepada kami? Engkau menghendaki agar kami meninggalkan persembahan kami dan nenek moyang kami, persembahan dan agama yang telah menjadi darah daging kami menjadi sebahagian hidup kami sejak kami dilahirkan dan tetap menjadi pegangan untuk selama-lamanya. Kami sesekali tidak akan meninggalkannya kerana seruanmu dan kami tidak akan mengikutimu yang sesat itu. Kami tidak mempercayai cakap-cakap kosongmu bahkan meragukan kenabianmu. Kami tidak akan mendurhakai nenek moyang kami dengan meninggalkan persembahan mereka dan mengikuti jejakmu."

Nabi Saleh memperingatkan mereka agar jangan menentangnya dan agar mengikuti ajakannya beriman kepada Allah s.w.t. yang telah mengurniai mereka rezeki yang luas dan penghidupan yang sejahtera. Diceritakan kepada mereka kisah kaum-kaum yang mendapat seksa dan azab dari Allah s.w.t. kerana menentang rasul-Nya dan mendustakan risalah-Nya. Hal yang serupa itu boleh terjadi di atas mereka jika mereka tidak mahu menerima dakwahnya dan mendengar nasihatnya, yang diberikannya secara ikhlas dan jujur sebagai seorang anggota dari keluarga besar mereka dan yang tidak mengharapkan atau menuntut upah daripada mereka atas usahanya itu. Ia hanya menyampaikan amanat Allah s.w.t. yang ditugaskan kepadanya dan Allah s.w.t.lah yang akan memberinya upah dan ganjaran untuk usahanya memberi pimpinan dan tuntutan kepada mereka.

Sekelompok kecil dari kaum Tsamud yang kebanyakkannya terdiri dari orang-orang yang kedudukan sosial lemah menerima dakwah Nabi Saleh dan beriman kepadanya sedangkan sebahagian yang terbesar terutamanya mereka yang tergolong orang-orang kaya dan berkedudukan tetap berkeras kepala dan menyombongkan diri menolak ajakan Nabi Saleh dan mengingkari kenabiannya dan berkata kepadanya: "Wahai Saleh! Kami kira bahawa engkau telah kerasukan syaitan dan terkena sihir. Engkau telah menjadi gila. Akalmu sudah berubah dan fikiranmu sudah kacau sehingga engkau dengan tidak sedar telah mengeluarkan kata-kata ucapan yang tidak masuk akal dan mungkin engkau sendiri tidak memahaminya. Engkau mengaku bahawa engkau telah diutuskan oleh Tuhanmu sebagai nabi dan rasul-Nya. Apakah kelebihanmu daripada kami semua sehingga engkau dipilih menjadi rasul, padahal ada orang-orang di antara kami yang lebih patut dan lebih cekap untuk menjadi nabi atau rasul drp engkau. Tujuanmu dengan bercakap kosong dan kata-katamu hanyalah untuk mengejar kedudukan dan ingin diangkat menjadi kepala dan pemimpin bagi kaummu. Jika engkau merasa bahawa engkau sihat badan dan sihat fikiran dan mengaku bahawa engkau tidak mempunyai arah dan tujuan yang terselubung dalam dakwahmu itu maka hentikanlah usahamu menyiarkan agama barumu dengan mencerca persembahan kami dan nenek moyangmu sendiri. Kami tidak akan mengikuti jalanmu dan meninggalkan jalan yang telah ditempuh oleh orang-orang tua kami lebih dahulu.

Nabi Saleh menjawab: "Aku telah berulang-ulang mengatakan kepadamu bahawa aku tidak mengharapkan sesuatu apapun daripadamu sebagai imbalan atas usahaku memberi tuntunandan penerangan kepada kamu. Aku tidak mengharapkan upah atau mendambakan pangkat dan kedudukan bagi usahaku ini yang aku lakukan semata-mata atas perintah Allah s.w.t. dan daripada-Nya kelak aku harapkan balasan dan ganjaran untuk itu. Dan bagaimana aku dapat mengikutimu dan menterlantarkan tugas dan amanat Tuhan kepadaku, padahal aku talah memperoleh bukti-bukti yang nyata atas kebenaran dakwahku. Janganlah sesekali kamu harapkan bahawa aku akan melanggar perintah Tuhanku dan melalaikan kewajibanku kepada-Nya hanya semata-mata untuk melanjutkan persembahan nenek moyang kami yang bathil itu. Siapakah yang akan melindungiku dari murka dan azab Tuhan jika aku berbuat demikian? Sesungguhnya kamu hanya akan merugikan dan membinasakan aku dengan seruanmu itu."

Setelah gagal dan berhasil menghentikan usaha dakwah Nabi Saleh dan dilihatnya ia bahkan makin giat menarik orang-orang mengikutinya dan berpihak kepadanya para pemimpin dan pemuka kaum Tsamud berusaha hendak membendung arus dakwahnya yang makin lama makin mendpt perhatian terutama dari kalangan bawahan menengah dalam masyarakat. Mereka menentang Nabi Saleh dan untuk membuktikan kebenaran kenabiannya dengan suatu bukti mukjizat dalam bentuk benda atau kejadian luar biasa yang berada di luar kekuasaan manusia.

Allah s.w.t. Memberi Mukjizat Kepada Nabi Saleh a.s.

Nabi Saleh sedar bahawa tentangan kaumnya yang menuntut bukti daripadanya berupa mukjizat itu adalah bertujuan hendak menghilangkan pengaruhnya dan mengikis habis kewibawaannya di mata kaumnya terutama para pengikutnya bila ia gagal memenuhi tentangan dan tuntutan mereka. Nabi Saleh membalas tentangan mereka dengan menuntut janji dengan mereka bila ia berhasil mendatangkan mukjizat yang mereka minta bahawa mereka akan meninggalkan agama dan persembahan mereka dan akan mengikuti Nabi Saleh dan beriman kepadanya.

Sesuai dengan permintaan dan petunjuk pemuka-pemuka kaum Tsamud berdoalah Nabi Saleh memohon kepada Allah s.w.t. agar memberinya suatu mukjizat untuk membuktikan kebenaran risalahnya dan sekaligus mematahkan perlawanan dan tentangan kaumnya yang masih berkeras kepala itu. Ia memohon dari Allah s.w.t. dengan kekuasaan-Nya menciptakan seekor unta betina dikeluarkannya dari perut sebuah batu karang besar yang terdapat di sisi sebuah bukit yang mereka tunjuk. Maka sejurus kemudian dengan izin Allah Yang Maha Kuasa lagi Maha Pencipta terbelahlah batu karang yang ditunjuk itu dan keluar dari perutnya seekor unta betina.

Dengan menunjuk kepada binatang yang baru keluar dari perut batu besar itu berkatalah Nabi Saleh kepada mereka: "Inilah dia unta Allah s.w.t., janganlah kamu ganggu dan biarkanlah ia mencari makanannya sendiri di atas bumi Allah s.w.t. ia mempunyai giliran untuk mendapatkan air minum dan kamu mempunyai giliran untuk mendapatkan minum bagimu dan bagi ternakanmu juga dan ketahuilah bahawa Allah s.w.t. akan menurunkan azab-Nya bila kamu sampai mengganggu binatang ini."Kemudian berkeliaranlah unta di ladang-ladang memakan rumput sesuka hatinya tanpa mendapat gangguan. Dan ketika giliran minumnya tiba pergilah unta itu ke sebuah perigi yang diberi nama perigi unta dan minumlah sepuas hatinya. Dan pada hari-hari giliran unta Nabi Saleh itu datang minum tiada seekor binatang lain berani menghampirinya, hal mana menimbulkan rasa tidak senang pada pemilik-pemilik binatang itu yang makin hari makin merasakan bahawa adanya unta Nabi Saleh di tengah-tengah mereka itu merupakan gangguan laksana duri yang melintang di dalam kerongkong.

Dengan berhasilnya Nabi Saleh mendatangkan mukjizat yang mereka tuntut gagallah para pemuka kaum Tsamud dalam usahanya untuk menjatuhkan kehormatan dan menghilangkan pegaruh Nabi Saleh bahkan sebaliknya telah menambah tebal kepercayaan para pengikutnya dan menghilang banyak keraguan dari kaumnya. Maka dihasutlah oleh mereka pemilik-pemilik ternakan yang merasa jengkel dan tidak senang dengan adanya unta Nabi Saleh yang merajalela di ladang dan kebun-kebun mereka serta ditakuti oleh binatang-binatang peliharaannya.

Unta Nabi Saleh Dibunuh

Persekongkolan diadakan oleh orang-orang dari kaum Tsamud untuk mengatur rancangan pembunuhan unta Nabi Saleh. Dan selagi orang masih dibayangi oleh rasa takut dari azab yang diancam oleh Nabi Saleh bila untanya diganggu di samping adanya dorongan keinginan yang kuat untuk melenyapkan binatang itu dari atas bumi mereka, muncullah tiba-tiba seorang janda bangsawan yang kaya raya menawarkan akan menyerah dirinya kepada siapa yang dapat membunuh unta Saleh. Di samping janda itu ada seorang wanita lain yang mempunyai beberapa puteri cantik-cantik menawarkan akan menghadiahkan salah seorang dari puteri-puterinya kepada orang yang berhasil membunuh unta itu.

Dua macam hadiah yang menggiurkan dari kedua wanita itu di samping hasutan para pemuka Tsamud mengundang dua orang lelaki bernama Mushadda' bin Muharrij dan Gudar bin Salif berkemas-kemas akan melakukan pembunuhan bagi meraih hadiah yang dijanjikan di samping sanjungan dan pujian yang akan diterimanya dari para kafir suku Tsamud bila unta Nabi Saleh telah mati dibunuh. Dengan bantuan tujuh orang lelaki lagi bersembunyilah kumpulan itu di suatu tempat di mana biasanya dilalui oleh unta dalam perjalanannya ke perigi tempat ianya minum. Dan begitu unta yang tidak berdosa itu lalu segeralah dipanah betisnya oleh Musadda' yang disusul oleh Gudar dengan menikamkan pedangnya di perutnya.

Dengan perasaan megah dan bangga pergilah para pembunuh unta itu ke ibu kota menyampaikan berita matinya unta Nabi Saleh yang mendapat sambutan sorak-sorai dan teriakan gembira dari pihak musyrikin seakan-akan mereka kembali dari medan perang dengan membawa kemenangan yang gilang gemilang. Berkata mereka kepada Nabi Saleh: "Wahai Saleh! Untamu telah mati dibunuh, cubalah datangkan akan apa yang engkau katakan dulu akan ancamannya bila unta itu diganggu, jika engkau betul-betul termasuk orang-orang yang terlalu benar dalam kata-katanya."

Nabi Saleh menjawab: "Aku telah peringatkan kamu, bahawa Allah s.w.t. akan menurunkan azab-Nya atas kamu jika kamu mengganggu unta itu. Maka dengan terbunuhnya unta itu maka tunggulah engkau akan tibanya masa azab yang Allah s.w.t. talah janjikan dan telah aku sampaikan kepada kamu. Kamu telah menentang Allah s.w.t. dan terimalah kelak akibat tentanganmu kepada-Nya. Janji Allah s.w.t. tidak akan meleset. Kamu boleh bersuka ria dan bersenang-senang selama tiga hari ini kemudian terimalah ganjaranmu yang setimpal pada hari keempat. Demikianlah kehendak Allah s.w.t. dan takdir-Nya yang tidak dapat ditunda atau dihalang."

Ada kemungkinan menurut ahli tafsir bahawa Allah s.w.t. melalui rasul-Nya Nabi Saleh memberi waktu tiga hari itu untuk memberi kesempatan, kalau-kalau mereka sedar akan dosanya dan bertaubat minta ampun serta beriman kepada Nabi Saleh kepada risalahnya. Akan tetapi dalam kenyataannya tempoh tiga hari itu bahkan menjadi bahan ejekan kepada Nabi Saleh yang ditentangnya untuk mempercepat datangnya azab itu dan tidak usah ditangguhkan tiga hari lagi.

Turunnya Azab Allah s.w.t. Yang Dijanjikan

Nabi Saleh memberitahu kaumnya bahawa azab Allah s.w.t. yang akan menimpa di atas mereka akan didahului dengan tanda-tanda, iaitu pada hari pertama bila mereka terbangun dari tidurnya akan menemui wajah mereka menjadi kuning dan berubah menjadi merah pada hari kedua dan hitam pada hari ketiga dan pada hari keempat turunlah azab Allah s.w.t. yang pedih. Mendengar ancaman azab yang diberitahukan oleh Nabi Saleh kepada kaumnya kelompok sembilan orang ialah kelompok pembunuh unta merancang pembunuhan atas diri Nabu Saleh mendahului tibanya azab yang diancamkan itu. Mereka mengadakan pertemuan rahsia dan bersumpah bersama akan melaksanakan rancangan pembunuhan itu di waktu malam, di saat orang masih tidur nyenyak untuk menghindari tuntutan balas darah oleh keluarga Nabi Saleh, jika diketahui identiti mereka sebagai pembunuhnya. Rancangan mereka ini dirahsiakan sehingga tidak diketahui dan didengar oleh siapa pun kecuali kesembilan orang itu sendiri.

Ketika mereka datang ke tempat Nabi Saleh bagi melaksanakan rancangan jahatnya di malam yang gelap-gulita dan sunyi-senyap berjatuhanlah di atas kepala mereka batu-batu besar yang tidak diketahui dari arah mana datangnya dan yang seketika merebahkan mereka di atas tanah dalam keadaan tidak bernyawa lagi. Demikianlah Allah s.w.t. telah melindingi rasul-Nya dari perbuatan jahat hamba-hamba-Nya yang kafir. Satu hari sebelum hari turunnya azab yang telah ditentukan itu, dengan izin Allah s.w.t. berangkatlah Nabi Saleh bersama para mukminin pengikutnya menuju Ramlah, sebuah tempat di Palestin, meninggalkan Hijir dan penghuninya, kaum Tsamud habis binasa, ditimpa halilintar yang dahsyat beriringan dengan gempa bumi yang mengerikan.

Kisah Nabi Saleh Dalam Al-Quran

Kisah Nabi Saleh diceritakan oleh 72 ayat dalam 11 surah di antaranya surah Al-A'raaf, ayat 73 hingga 79 , surah " Hud " ayat 61 sehingga ayat 68 dan surah " Al-Qamar " ayat 23 sehingga ayat 32.

Pengajaran Dari Kisah Nabi Saleh a.s.

Pengajaran yang menonjol yang dapat dipetik dari kisah Nabi Saleh ini ialah bahawa dosa dan perbuatan mungkar yang dilakukan oleh sekelompok kecil warga masyarakat dapat membinasakan masyarakat itu seluruhnya. Lihatlah betapa kaum Tsamud menjadi binasa, hancur dan bahkan tersapu bersih dari atas bumi kerana dosa dan pelanggaran perintah Allah s.w.t. yang dilakukan oleh beberapa gelintir orang pembunuh unta Nabi Saleh a.s. Di sinilah letaknya hikmah perintah Allah s.w.t. agar kita melakukan amar makruf nahi mungkar. Kerana dengan melakukan tugas amar makruf nahi mungkar yang menjadi fardu kifayah itu, setidak-tidaknya kalau tidak berhasil mencegah kemungkaran yang terjadi didalam masyarakat dan lindungan kita, kita telah membebaskan diri dari dosa menyetujui atau merestui perbuatan mungkar itu Bersikap pasif acuh tak acuh terhadap maksiat dan kemungkaran yang berlaku di depan mata dapat diertikan sebagai persetujuan dan penyekutuan terhadap perbuatan mungkar itu.

Rabu, 26 Mei 2010

HADIS HARI INI.(2)


عَنْ أَبي عَبْدِ الرَّحمنِ عبدِ الله بْنِ عُمَرَ بْنِ الخطابِ رضي الله عَنْهُمَا قَالَ: سَمِعْتُ رَسُوْلَ ا للهِ
صَلَّى اللهُ عَليهِ وَسَلَّمَ یَقُولُ: (( بُنِيَ الإِسْلاَمُ عَلَى خَمْسٍ: شهادَةِ أَنْ لاَ إِلهَ إِلاَّ الله وَأَنَّ مُحمدً ا
رَسُولُ الله، وَإِقَامِ الصَّلاةِ، وَإِیْتَاءِ الزَّآَاةِ، وَحَجِّ الْبَيْتِ، وَصَوْمِ رَمَضَانَ )). رواه البخاري
ومسلم.
Daripada Abu Abdul Rahman Abdullah ibn 'Umar ibn al-Khatthab ( رضي الله عنهما ) beliau berkata: Aku
telah mendengar Rasulullah SAW bersabda:
lslam itu teribna atas lima perkara: Naik saksi mengaku bahawa sesungguhnya tiada Tuhan melainkan
Allah dan bahawa sesungguhnya Muhammad itu adalah Utusan Allah, Mendirikan sembahyang,
mengeluarkan zakat, mengerjakan haji ke baitulLah dan menunaikan puasa pada bulan Ramadhan.
Hadis riwayat al-lmam al-Bukhari dan al-lmam Muslim (Al-Imam al-Bukhari meriwayatkannya dalam Kitab (al-
Iman) bab
باب الإیمان وقول النبي صلى الله عليه وسلم بني الإسلام على خمس)) ) hadis nombor 8. Al-Imam Muslim dalam bab ( باب بيان
أرآان الإسلام ودعائمه العظام) hadis nombor 16).
Pokok Perbincangan Hadis :
1) Binaan Islam :
Diibaratkan sebagai penyelamat manusia yang mengeluarkannya dari daerah kekufuran dan
melayakkannya masuk syurga serta jauh dari neraka.
Struktur binaan yang kemas dan kukuh dengan asas-asas dan cabang-cabangnya.
2) Ikatan Antara Rukun-Rukun Islam :
Sempurna iman bagi yang menerima sepenuhnya.
Bagi yang menolak semuanya - hukumnya kafir
Sesiapa yang ingkar salah satu - bukan muslim (ijma)
Sesiapa yang menerima tapi malas melakukannya (kecuali syahadah) - fasiq
Sesiapa yang melakukan dan iqrar secara pura-pura - munafiq
3) Matlamat Ibadat :
Syahadah - syarat diterima amalan lain.
Solat - penghubung antara hamba dengan tuhannya - pertama dihisab .
Zakat - suburkan harta/ berkat - sucikan diri.
Haji - tidak harus bagi orang yang berkemampuan untuk itu melewatkan pemergiannya - wajib
segerakan.
Haji Mabrur merupakan sebaik-baik jihad.
Puasa - syahwat dikengkang/ maksiat terhindar - sebab kepada ketinggian darjah di sisi Allah.
Pengajaran hadis:
Hadis ini juga menerangkan tentang rukun lslam lima perkara. Hadis ini mengumpamakan lslam
sebagai sebuah binaan yang tertegak megah dengan lima batang tiang. Tanpa lima perkara ini lslam
seseorang akan goyah dan runtuh. lni membayangkan betapa rukun-rukun ini mestilah ditegakkan oleh
setiap muslim dengan penuh ikhlas dan tanggungjawab. Menegakkan rukun lslam bermakna
kesempurnaan, keteguhan, keutuhan dan keelokan binaan lslam sebaliknya kecuaian bererti
keruntuhan, kehancuran dan kemusnahan lslam.

Ahad, 23 Mei 2010

CONTOH TAKWA YANG DITUNJUKKAN OLEH UMAR

Umar r.a.hu kerap memegang sehelai jerami sambil berkata: "Alangkah baiknya kalau aku dapat menjadi jerami seperti ini." Kadang-kala dia berkata: "Alangkah baiknya kalau aku tidak dilahirkan oleh ibuku!"

Pada suatu ketika Umar sedang sibuk dengan urusan yang penting. Tiba-tiba datang satu hamba Allah dengan satu pengaduan yang berkehendakkan pembetulan. Oleh Umar dicemetinya orang itu dibahagian bahunya. Umar berkata: "Bila aku duduk hendak menerima pengaduan engkau tidak datang tetapi bila aku sibuk dengan urusan penting engkau datang menggangui aku."

Tanpa berkata apa-apa orang itu pun meninggalkan Umar. Sejurus kemudian ia dibawa kehadapan Umar sekali lagi. Sambil mengunjukkan cemeti tadi padanya Umar berkata: "Pukullah aku sebagai membalas perbuatan tadi." "Kata orang itu: "Saya mengampuni awak kerana Allah s.w.t."

Kekesalan Umar tidak dapat dibayangkan. Dengan cepat dia kembali kerumahnya lalu mendirikan sembahyang sebanyak dua rakaat. Dia mengkritik dirinya sendiri seperti berikut: "Wahai Umar, dahulu kedudukanmu rendah tetapi kini telah ditinggikan oleh Allah s.w.t.. Dahulu kamu sesat tetapi kini telah dipimpin oleh Allah s.w.t. dan Dia telah memberi kamu kuasa keatas hamba-hambaNya. Apabila salah seorang daripada mereka datang untuk mendapat keadilan ia dipukul dan disakiti. Apakah alasan yang hendak kamu berikan dihadapan Allah s.w.t.?"

Soalan ini dihadapkan kepada dirinya bukan sekali malah beberapa kali. Pada suatu malam Umar sedang meronda disuatu tempat dipersekitaran kota Madinah dengan hambanya Aslam. Tiba-tiba kelihatan cahaya api tidak jauh dari tempat mereka berada. Dia berkata: "Nun ditengah-tengah padang pasir nampaknya ada khemah, mungkin kepunyaan suatu khalifah yang tidak dapat memasuki kota kerana kegelapan malam. Mari kita uruskan perlindungan mereka."

Setibanya mereka ditempat perkhemahan itu, yang kelihatan hanyalah seorang perempuan dengan beberapa orang anaknya. Si ibu tadi sedang menjerang secerek air, sambil memberi salam dia meminta izin untuk mendekatinya.

Umar: "Mengapa kanak-kanak ini menangis"

Perempuan: Kerana mereka lapar"

Umar: "Apa yang ada didalam cerek itu?"

Perempuan: "Hanya air untuk memperdayakan mereka supaya mereka tidur dengan sangkaan yang makanan sedang disediakan untuk mereka. Ah, Allah s.w.t. akan mengadili pengaduanku terhadap Umar pada hari kiamat nanti kerana membiarkan aku didalam keadaan begini."

Umar:(Menangis)"Semoga Allah s.w.t. mengampuni kamu tetapi bagaimanakah Umar hendak mengetahui tentang penderitaan kamu!"

Perempuan:"Orang yang menjadi Amir patut tahu akan keadaan setiap rakyatnya."

Umar balik kekota dan terus ke Baitulmal. Dia mengisikan sebuah karung dengan tepung, buah tamar, minyak dan kain baju. Dia mengeluarkan juga sedikit wang. Apabila karung tadi telah penuh Umar pun berkata kepada Aslam: "Letakkan karung ini keatas belakangku Aslam"

Aslam: "Tidak, tidak, ya Amirul Mu'minin! Biar saya yang memikulnya"

Umar: "Apa! Adakah engkau yang akan memikuli dosaku dihari kiamat kelak? Aku terpaksa memikulinya kerana akulah yang akan dipersoalkan nanti mengenai perempuan ini"

Dengan perasaan serba salah Aslam meletakkan karung itu diatas belakang Umar. Dengan diikuti oleh Aslam dia telah berjalan dengan pantas menuju khemah perempuan itu. Dia memasukkan sedikit tepung, buah tamar dan minyak kedalam cerek tadi lalu mengacaunya. Dia sendiri meniup bara untuk menyalakan api. Kata Aslam: "Saya melihat asap mengenai janggutnya"

Sebentar kemudian makanan itu pun siaplah. Umar sendiri menghidangkan kepada keluarga miskin itu. Selepas kenyang perut kanak-kanak itu, mereka pun bermainlah dengan gembiranya. Melihat keadaan anak-anaknya, perempuan itu pun berkata:"Semoga Allah s.w.t. memberi ganjaran kepada kamu kerana kebaikan hatimu. Sesungguhnya kamu lebih layak memegang jawatan khalifah daripada Umar." Umar melipurkan hati perempuan itu lalu berkata: " Apabila kamu datang berjumpa dengan khalifah, kamu akan menjumpai aku disana."

Setelah melihat kanak-kanak itu bermain beberapa ketika, Umar pun beredar dari situ. Dalam perjalanan pulang Umar telah bertanya kepada Aslam:"Kamu tahu tak mengapa aku duduk disitu beberapa ketika?"Aku ingin melihat mereka bermain-main dan gelak ketawa kerana kesukaan setelah melihat mereka menangis kelaparan."

Mengikut riwayat ketika mengerjakan solat fajar Umar sering membaca SURAH "KAHF, TAHA" dan lain-lain surah yang hampir-hampir sama dengan surah-surah itu. Waktu inilah dia kerap menangis sehingga tangisannya jelas kedengaran beberpa saf kebelakang. Pada suatu subuh ketika membaca ayat SURAH "YUSUF" yang bermaksud:

Hanya aku mengadukan kesusahanku dan kedukacitaanku kepada Allah.

(SURAH YUSUF-86)

Dia telah menangis teresak-esak sehingga tidak dapat meneruskan pembacaannya.

Wahai kaum muslimin, kisah-kisah Umar yang baru saja diceritakan sepatutnya dijadikan bahan rujukan oleh kita bersama. Umar diketahui umum merupakan kesatriaan Islam yang terkenal kerana gagah beraninya. Namanya saja sudah dapat mengecutkan perut pemusuh-pemusuh Islam. Namun demikian dihadapan Allah s.w.t. dia menangis ketakutan. Dimanakah seorang Raja atau Pemimpin negara yang bersedia menunjukkan belas rahimnya kepada seorang hamba rakyatnya yang hina seperti mana yang telah ditunjukkan oleh Umar? Demikianlah kesucian, kemurnian dan ketinggian sopan santun yang dikehendaki oleh Islam, Agama yang kita semua akui sebagai penganut-penganutnya.

Sabtu, 22 Mei 2010

PENDERITAAN KHABBAB BIN ALARAT


PENDERITAAN KHABBAB BIN ALARAT

Khabbab ialah seorang manusia yang telah banyak berkorban kerana agama yang telah dianutinya. Dia awal-awal lagi telah memeluk agama Islam dan oleh yang demikian penderitaan yang ditanggungnya pun agak lama juga. Dia telah dipaksakan memakai baju besi dan disuruh berbaring dipasir, mendedahkan badannya pada panas matahari yang terik hingga kulitnye mengelupas. Khabbab adalah seorang hamba abdi kepada seorang perempuan. Apabila diketahui oleh si perempuan tadi yang dia sering melawat Nabi Muhammad s.a.w kepalanya diselar dengan panas yang merah membara.

Umar r.a.hu semasa beliau menjadi Khalifah telah bertanya kepaha Khabbab tentang penderitaannya dikala mula-mula menganuti agama Islam dahulu. Sebagai menjawab
dia menunjukkan parut-parut luka dibelakang badannya. Kata Umar,"Aku tidak pernah melihat belakang badan yang sedimikian rupa." Melanjutkan ceritanya dia mengatakan yang dia telah diheret diatas suatu timbunan bara api sehingga lemak-lemak dan darah yang mengalir dari badannya memadamkan bara-bara api itu. Apabila agama Islam telah merebak ke merata-rata tempat, Khabbab sering duduk menangis sambil berkata:"Nampaknya Allah s.w.t. sedang memberi ganjaran bagi segala penderitaan yang kita alami. Mungkin di akhirat nanti tidak ada ganjaran yang bakal kita terima."

Khabbab bercerita:
"Pada suatu hari Rasulullah s.a.w. telah mengimami kami dalam sembahyang. Rasulullah s.a.w telah memanjangkan suatu rakaat. Diakhir sembahyang itu kami bertanya tentang rakaat yang panjang tadi. Rasulullah s.a.wmenjawab:"Saya telah membuat tiga permintaan kepada Allah s.w.t.. Saya berdoa:"Ya Allah, janganlah hendaknya ummatku mati kerana kebuluran, janganlah hendaknya ummatku dihapuskan oleh musuh dan janganlah hendaknya mereka berkelahi sesama mereka"."Allah s.w.t.. telah menunaikan hanya dua permintaanku yang pertama."

Khabbab telah meninggal dunia apabila usianya meningkat tiga puluh tujuh tahun. Dia merupakan sahabat yang pertama sekali dikebumikan di Kufah. Pada suatu ketika apabila Ali r.a.hu melalui pusaranya beliau pun berkata:"Moga-moga Allah s.w.t. memberkhati dan melimpahkan rahmatNya keatas Khabbab. Dia telah memeluki Islam dengan segala senang hati dan telah menumpukan segala tenaganya semasa ia hidup untuk berusaha dijalan Allah, walaupun dengan berbuat demikian dia menderita kesusahan. Berbahagialah orang yang sentiasa mengingati hari Kiamat, yang sentiasa bersiap sedia untuk menghadapi perhitungan diAkhirat nanti, yang berpuas hati dengan hidup berdikit-dikit didunia ini dan yang perbuatannya mendatangkan keridhaan tuhan."

Keridhaan Allah s.w.t.lah yang menjadi matlamat tunggal perjuangan hidup para sahabat semuanya. Semoga kita semua juga akan mendapat keridhaan Allah s.w.t.

Khamis, 20 Mei 2010

KISAH NABI HUD A.S.




"Aad" adalah nama bapa suatu suku yang hidup di jazirah Arab di suatu tempat bernama "Al-Ahqaf" terletak di utara Hadramaut antara Yaman dan Umman dan termasuk suku yang tertua sesudah kaum Nabi Nuh serta terkenal dengan kekuatan jasmani dalam bentuk tubuh-tubuh yang besar dan sasa. Mereka dikurniai oleh Allah s.w.t. tanah yang subur dengan sumber-sumber airnya yang mengalir dari segala penjuru sehinggakan memudahkan mereka bercucuk tanam untuk bahan makanan mereka dan memperindah tempat tinggal mereka dengan kebun-kebun bunga yang indah-indah. Berkat kurnia Allah s.w.t. itu mereka hidup menjadi makmur, sejahtera dan bahagia serta dalam waktu yang singkat mereka berkembang biak dan menjadi suku yang terbesar diantara suku-suku yang hidup di sekelilingnya.

Sebagaimana dengan kaum Nabi Nuh kaum Hud ialah suku Aad ini adalah penghidupan rohaninya tidak mengenal Allah Yang Maha Kuasa Pencipta alam semesta. Mereka membuat patung-patung yang diberi nama " Shamud" dan " Alhattar" dan itu yang disembah sebagai tuhan mereka yang menurut kepercayaan mereka dapat memberi kebahagiaan, kebaikan dan keuntungan serta dapat menolak kejahatan, kerugian dan segala musibah. Ajaran dan agama Nabi Idris dan Nabi Nuh sudah tidak berbekas dalam hati, jiwa serta cara hidup mereka sehari-hari. Kenikmatan hidup yang mereka sedang tenggelam di dalamnya berkat tanah yang subur dan menghasilkan yang melimpah ruah menurut anggapan mereka adalah kurniaan dan pemberian kedua berhala mereka yang mereka sembah. Kerananya mereka tidak putus-putus sujud kepada kedua berhala itu mensyukurinya sambil memohon perlindungannya dari segala bahaya dan mushibah berupa penyakit atau kekeringan.


Sebagai akibat dan buah dari aqidah yang sesat itu pergaulan hidup mereka menjadi dikuasai oleh tuntutan dan pimpinan Iblis laknatullah, di mana nilai-nilai moral dan akhlak tidak menjadi dasar penimbangan atau kelakuan dan tindak-tanduk seseorang tetapi kebendaan dan kekuatan lahiriahlah yang menonjol sehingga timbul kerusuhan dan tindakan sewenang-wenang di dalam masyarakat di mana yang kuat menindas yang lemah yang besar memperkosa yang kecil dan yang berkuasa memeras yang di bawahnya. Sifat-sifat sombong, congkak, iri-hati, dengki, hasut dan benci-membenci yang didorong oleh hawa nafsu merajalela dan menguasai penghidupan mereka sehingga tidak memberi tempat kepada sifat-sifat belas kasihan, sayang menyayang, jujur, amanat dan rendah hati. Demikianlah gambaran masyarakat suku Aad tatkala Allah s.w.t. mengutuskan Nabi Hud sebagai nabi dan rasul kepada mereka.


Nabi Hud Berdakwah Di Tengah-tengah Sukunya

Sudah menjadi sunnah Allah s.w.t. sejak diturunkannya Adam Ke bumi bahawa dari masa ke semasa jika hamba-hamba-Nya sudah berada dalam kehidupan yang sesat sudah jauh menyimpang dari ajaran-ajaran agama yang dibawa oleh Nabi-nabi-Nya diutuslah seorang Nabi atau Rasul yang bertugas untuk menyegarkan kembali ajaran-ajaran nabi-nabi yang sebelumnya mengembalikan masyarakat yang sudah tersesat ke jalanlurus dan benar dan mencuci bersih jiwa manusiadari segala tahayul dan syirik menggantinya dan mengisinya dengan iman tauhid dan aqidah yang sesuia dengan fitrah.

Demikianlah maka kepada suku Aad yang telah dimabukkan oleh kesejahteraan hidup dan kenikmatan duniawi sehingga tidak mengenalkan Tuhannya yang mengurniakan itu semua. Di utuskan kepada mereka Nabi Hud seorang daripada suku mereka sendiri dari keluarga yang terpandang dan berpengaruh terkenal sejak kecilnya dengan kelakuan yang baik budi pekerti yang luhur dan sgt bijaksana dalam pergaulan dengan kawan-kawannya. Nabi Hud memulai dakwahnya dengan menarik perhatian kaumnya suku Aad kepada tanda-tanda wujudnya Allah s.w.t. yang berupa alam sekeliling mereka dan bahawa Allah s.w.t. lah yang mencipta mereka semua dan mengurniakan mereka dengan segala kenikmatan hidup yang berupa tanah yang subur, air yang mengalir serta tubuh-tubuhan yang tegak dan kuat. Dialah yang seharusnya mereka sembah dan bukan patung-patung yang mereka perbuat sendiri. Mereka sebagai manusia adalah makhluk Tuhan paling mulia yang tidak sepatutnya merendahkan diri sujud menyembah batu-batu yang sewaktunya dapat mereka hancurkan sendiri dan memusnahkannya dari pandangan.

Di terangkan oleh Nabi Hud bahawa dia adalah pesuruh Allah s.w.t. yang diberi tugas untuk membawa mereka ke jalan yang benar beriman kepada Allah s.w.t. yang menciptakan mereka menghidup dan mematikan mereka memberi rezeki atau mencabutnya daripada mereka. Ia tidak mengharapkan upah dan menuntut balas jasa atas usahanya memimpin dan menuntut mereka ke jalan yang benar. Ia hanya menjalankan perintah Allah s.w.t. dan memperingatkan mereka bahawa jika mereka tetap menutup telinga dan mata mrk menghadapi ajakan dan dakwahnya mereka akan ditimpa azab dan dibinasakan oleh Allah s.w.t. sebagaimana terjadinya atas kaum Nuh yang mati binasa tenggelam dalam air bah akibat kecongkakan dan kesombongan mereka menolak ajaran dan dakwah Nabi Nuh seraya bertahan pada pendirian dan kepercayaan mereka kepada berhala dan patung-patung yang mereka sembah dan puja itu.

Bagi kaum Aad seruan dan dakwah Nabi Hud itu merupakan barang yang tidak pernah mereka dengar ataupun menduga. Mereka melihat bahawa ajaran yang dibawa oleh Nabi Hud itu akan mengubah sama sekali cara hidup mereka dan membongkar peraturan dan adat istiadat yang telah mereka kenal dan warisi dari nenek moyang mereka. Mereka tercengang dan merasa hairan bahawa seorang dari suku mereka sendiri telah berani berusaha merombak tatacara hidup mereka dan menggantikan agama dan kepercayaan mereka dengan sesuatu yang baru yang mereka tidak kenal dan tidak dapat dimengertikan dan diterima oleh akal fikiran mereka. Dengan serta-merta ditolaklah oleh mereka dakwah Nabi Hud itu dengan berbagai alasan dan tuduhan kosong terhadap diri beliau serta ejekan-ejekan dan hinaan yang diterimanya dengan kepala dingin dan penuh kesabaran.

Berkatalah kaum Aad kepada Nabi Hud: "Wahai Hud! Ajaran dan agama apakah yang engkau hendak anjurkan kepada kami? Engkau ingin agar kami meninggalkan persembahan kami kepada tuhan-tuhan kami yang berkuasa ini dan menyembah tuhan mu yang tidak dapat kami jangkau dengan pancaindera kami dan tuhan yang menurut kata kamu tidak bersekutu. Cara persembahan yang kami lakukan ini ialah yang telah kami warisi dari nenek moyang kami dan tidak sesekali kami tidak akan meninggalkannya bahkan sebaliknya engkaulah yang seharusnya kembali kepada aturan nenek moyangmu dan jangan mencederai kepercayaan dan agama mereka dengan memebawa suatu agama baru yang tidak kenal oleh mereka dan tentu tidak akan direstuinya."

Wahai kaumku! jawab Nabi Hud, "Sesungguhnya Tuhan yang aku serukan ini kepada kamu untuk menyembah-Nya walaupun kamu tidak dapat menjangkau-Nya dengan pancainderamu namun kamu dapat melihat dan merasakan wujudnya dalam diri kamu sendiri sebagai ciptaanNya dan dalam alam semesta yang mengelilingimu beberapa langit dengan matahari bulan dan bintang-bintangnya bumi dengan gunung-ganangnya sungai tumbuh-tumbuhan dan binatang-binatang yang kesemuanya dapat bermanfaat bagi kamu sebagai manusia. Dan menjadi kamu dapat menikmati kehidupan yang sejahtera dan bahagia. Tuhan itulah yang harus kamu sembah dan menundukkan kepala kamu kepada-Nya, Tuhan Yang Maha Esa tiada bersekutu tidak beranak dan diperanakan yang walaupun kamu tidak dpt menjangkau-Nya dengan pancainderamu, Dia dekat daripada kamu mengetahui segala gerak-geri dan tingkah lakumu mengetahui isi hati mu denyut jantungmu dan jalan fikiranmu. Tuhan itulah yang harus disembah oleh manusia dengan kepercayaan penuh kepada keesaan-Nya dan kekuasaan-Nya dan bukan patung-patung yang kamu perbuat pahat dan ukir dengan tangan kamu sendiri kemudian kamu sembah sebagai tuhan padahal ia suatu barang yang tidak dapat berbuat sesuatu yang menguntungkan atau merugikan kamu. Alangkah bodohnya dan dangkalnya fikiranmu jika kamu tetap mempertahankan agamamu yang sesat itu dan menolak ajaran dan agama yang telah diwahyukan kepadaku oleh Allah Tuhan Yang Maha Esa itu."

Wahai Hud! jawab kaumnya, "Gerangan apakah yang menjadikan engkau berpandangan dan berfikiran lain daripada yang sudah menjadi pegangan hidup kami sejak dahulu kala dan menjadikan engkau meninggalkan agama nenek moyangmu sendiri bahkan sehingga engkau menghina dan merendahkan martabat tuhan-tuhan kami dan memperbodohkan kami dan menganggap kami berakal sempit dan berfikiran dangkal? Engkau mengaku bahawa engkau terpilih menjadi rasul pesuruh oleh Tuhanmu untuk membawa agama dan kepercayaan baru kepada kami dan mengajak kami keluar dari jalan yang sesat menurut pengakuanmu ke jalan yang benar dan lurus. Kami merasa hairan dan tidak dapat menerima oleh akal kami sendiri bahwa engkau telah dipilih menjadi pesuruh Tuhan. Apakah kelebihan kamu di atas seseorang daripada kami, engkau tidak lebih tidak kurang adalah seorang manusia biasa seperti kami hidup makan minum dan tidur tiada bedanya dengan kami, mengapa engkau yang dipilih oleh Tuhanmu? Sungguh engkau menurut anggapan kami seorang pendusta besar atau mungkin engkau berfikiran tidak sihat terkena kutukan tuhan-tuhan kami yang selalu engkau ejek hina dan cemuhkan."

"Wahai kaumku" jawab Nabi Hud, "Aku bukanlah seorang pendusta dan fikiran ku tetap waras dan sihat tidak kurang sesuatu pun dan ketahuilah bahawa patung-patungmu yang kamu pertuhankan itu tidak dapat mendatangkan sesuatu gangguan atau penyakit bagi badanku atau fikiranku. Kamu kenal aku, sejak lama aku hidup di tengah-tengah kamu bahawa aku tidak pernah berdusta dan bercakap bohong dan sepanjang pergaulanku dengan kamu tidak pernah terlihat pada diriku tanda-tanda ketidak wajaran perlakuanku atau tanda-tanda yang meragukan kewarasan fikiranku dan kesempurnaan akalku. Aku adalah benar pesuruh Allah s.w.t. yang diberi amanat untuk menyampaikan wahyu-Nya kepada hamba-hamba-Nya yang sudah tersesat kemasukan pengaruh ajaran Iblis laknatullah dan sudah jauh menyimpang dari jalan yang benar yang diajar oleh nabi-nabi yang terdahulu kerana Allah s.w.t. tidak akan membiarkan hamba-hamba-Nya terlalu lama terlantar dalam kesesatan dan hidup dalam kegelapan tanpa diutuskan seorang rasul yang menuntun mereka ke jalan yang benar dan penghidupan yang diredhai-Nya. Maka percayalah kamu kepada ku gunakanlah akal fikiran kamu berimanlah dan bersujudlah kepada Allah s.w.t., Tuhan seru sekalian alam, Tuhan yang menciptakan kamu menciptakan langit dan bumi menurunkan hujan bagi menyuburkan tanah ladangmu, menumbuhkan tumbuhan bagi meneruskan hidupmu. Bersembahlah kepada-Nya dan mohonlah ampun atas segala perbuatan salah dan tindakan sesatmu, agar Dia menambah rezekimu dan kemakmuran hidupmu dan terhindarlah kamu dari azab dunia sebagaimana yang telah dialami oleh kaum Nuh dan kelak azab di akhirat. Ketahuilah bahawa kamu akan dibangkitkan kembali kelak dari kubur kamu dan dimintai bertanggungjawab atas segala perbuatan kamu didunia ini dan diberi ganjaran sesuai dengan amalanmu yang baik dan soleh mendapat ganjaran baik dan yang hina dan buruk akan diganjarkan dengan api neraka. Aku hanya menyampaikannya risalah Allah s.w.t. kepada kamu dan dengan ini telah memperingati kamu akan akibat yang akan menimpa kepada dirimu jika kamu tetap mengingkari kebenaran dakwahku."

Kaum Aad menjawab: "Kami bertambah yakin dan tidak ragu lagi bahawa engkau telah mendapat kutukan tuhan-tuhan kami sehingga menyebabkan fikiran kamu kacau dan akalmu berubah menjadi tidak siuman. Engkau telah mengucapkan kata-kata yang tidak masuk akal bahawa jika kami mengikuti agamamu, akan bertambah rezeki dan kemakmuran hidup kami dan bahawa kami akan dibangkitkan kembali dari kubur kami dan menerima segala ganjaran atas segala amalan kami.Adakah mungkin kami akan dibangkitkan kembali dari kubur kami setelah kami mati dan menjadi tulang. Dan apakah azab dan seksaan yang engkau selalu menakutkan kami dan mengancamkannya kepada kami? Semua ini kami anggap kosong dan ancaman kosong belaka. Ketahuilah bahawa kami tidak akan menyerah kepadamu dan mengikuti ajaranmu kerana bayangan azab dan seksa yang engkau bayangkannya kepada kami bahkan kami menentang kepadamu datangkanlah apa yang engkau janjikan dan ancaman itu jika engkau betul-betul benar dalam kata-katamu dan bukan seorang pendusta."

"Baiklah" jawab Nabi Hud," Jika kamu meragukan kebenaran kata-kataku dan tetap berkeras kepala tidak menghiraukan dakwahku dan meninggalkan persembahanmu kepada berhala-berhala itu maka tunggulah saat tibanya pembalasan Tuhan di mana kamu tidak akan dapat melepaskan diri dari bencananya. Allah s.w.t. menjadi saksiku bahawa aku telah menyampaikan risalah-Nya dengan sepenuh tenagaku kepada mu dan akan tetap berusaha sepanjang hayat kandung badanku memberi penerangan dan tuntunan kepada jalan yang baik yang telah digariskan oleh Allah s.w.t. bagi hamba-hamba-Nya."

Pembalasan Allah s.w.t. Atas Kaum Aad

Pembalasan Allah s.w.t. terhadap kaum Aad yang kafir dan tetap membangkang itu diturunkan dalam dua perinkat. Tahap pertama berupa kekeringan yang melanda ladang-ladang dan kebun-kebun mereka, sehingga menimbulkan kecemasan dan kegelisahan, kalau-kalau mereka tidak memperolehi hasil dari ladang-ladang dan kebun-kebunnya seperti biasanya. Dalam keadaan demikian Nabi Hud masih berusaha meyakinkan mereka bahawa kekeringan itu adalah suatu permulaan seksaan dari Allah s.w.t. yang dijanjikan dan bahawa Allah s.w.t. masih lagi memberi kesempatan kepada mereka untuk sedar akan kesesatan dan kekafiran mereka dan kembali beriman kepada Allah s.w.t. dengan meninggalkan persembahan mereka yang bathil kemudian bertaubat dan memohon ampun kepada Allah s.w.t. agar segera hujan turun kembali dengan lebatnya dan terhindar mereka dari bahaya kelaparan yang mengancam. Akan tetapi mereka tetap belum mahu percaya dan menganggap janji Nabi Hud itu adalah janji kosong belaka. Mereka bahkan pergi menghadap berhala-berhala mereka memohon perlindungan dari musibah yang mereka hadapi.

Tentangan mereka terhadap janji Allah s.w.t. yang diwahyukan kepada Nabi Hud segera mendapat jawapan dengan datangnya pembalasan tahap kedua yang dimulai dengan terlihatnya gumpalan awan dan mega hitam yang tebal di atas mereka yang disambutnya dengan sorak-sorai gembira, kerana dikiranya bahawa hujan akan segera turun membasahi ladang-ladang dan menyirami kebun-kebun mereka yang sedang mengalami kekeringan. Melihat sikap kaum Aad yang sedang bersuka ria itu berkatalah Nabi Hud dengan nada mengejek: "Mega hitam itu bukanlah mega hitam dan awam rahmat bagi kamu tetapi mega yang akan membawa kehancuran kamu sebagai pembalasan Allah s.w.t. yang telah ku janjikan dan kamu ternanti-nanti untuk membuktikan kebenaran kata-kataku yang selalu kamu sangkal dan kamu dusta."

Sejurus kemudian menjadi kenyataanlah apa yang dikatakan oleh Nabi Hud itu bahawa bukan hujan yang turun dari awan yang tebal itu tetapi angin taufan yang dahsyat dan kencang disertai bunyi gemuruh yang mencemaskan yang telah merosakkan bangunan-bangunan rumah dari dasarnya membawa berterbangan semua perabot-perabot dan milik harta benda dan melempar jauh binatang-binatang ternak. Keadaan kaum Aad menjadi panik mereka berlari kesana sini mencari perlindungan Suami tidak tahu di mana isterinya berada dan ibu juga kehilangan anaknya sedang rumah-rumah menjadi sama rata dengan tanah. Bencana angin taufan itu berlangsung selama lapan hari tujuh malam sehingga sempat menyampuh bersih kaum Aad yang congkak itu dan menamatkan riwayatnya dalam keadaan yang menyedihkan itu untuk menjadi pengajaran dan ibrah bagi umat-umat yang akan datang.

Adapun Nabi Hud dan para sahabatnya yang beriman telah mendapat perlindungan Allah s.w.t. dari bencana yang menimpa kaumnya yang kacau bilau dan tenang seraya melihat keadaan kaumnya yang kacau bilau mendengar gemuruhnya angin dan bunyi pohon-pohon dan bangunan-bangunan yang berjatuhan serta teriakan dan tangisan orang yang meminta tolong dan mohon perlindungan. Setelah keadaan cuaca kembali tenang dan tanah "Al-Ahqaf " sudah menjadi sunyi senyap dari kaum Aad pergilah Nabi Hud meninggalkan tempatnya berhijrah ke Hadramaut, di mana ia tinggal menghabiskan sisa hidupnya sampai ia wafat dan dimakamkan di sana dimana hingga sekarang makamnya yang terletak di atas sebuah bukit di suatu tempat lebih kurang 50 km dari kota Siwun dikunjungi para penziarah yang datang beramai-ramai dari sekitar daerah itu, terutamanya dan bulan Syaaban pada setiap tahun.

Kisah Nabi Hud Dalam Al-Quran

Kisah Nabi Hud diceritakan oleh 68 ayat dalam 10 surah di antaranya surah Hud, ayat 50 hingga 60 , surah " Al-Mukminun " ayat 31 sehingga ayat 41 , surah " Al-Ahqaaf " ayat 21 sehingga ayat 26 dan surah " Al-Haaqqah " ayat 6 ,7 dan 8.

Pengajaran Dari Kisah Nabi Hud A.S.

Nabi Hud telah memberi contoh dan sistem yang baik yang patut ditiru dan diikuti oleh juru dakwah dan ahli penerangan agama. Beliau menghadapi kaumnya yang sombong dan keras kepala itu dengan penuh kesabaran, ketabahan dan kelapangan dada. Ia tidak sesekali membalas ejekan dan kata-kata kasar mereka dengan serupa tetapi menolaknya dengan kata-kata yang halus yang menunjukkan bahawa beliau dapat menguasai emosinya dan tidak sampai kehilangan akal atau kesabaran.

Nabi Hud tidak marah dan tidak gusar ketika kaumnya mengejek dengan menuduhnya telah menjadi gila dan tidak siuman. Ia dengan lemah lembut menolak tuduhan dan ejekan itu dengan hanya mengata: "Aku tidak gila dan bahawa tuhan-tuhanmu yang kamu sembah tidak dapat menggangguku atau mengganggu fikiranku sedikit pun tetapi aku ini adalah rasul pesuruh Allah s.w.t. kepadamu dan betul-betul aku adalah seorang penasihat yang jujur bagimu menghendaki kebaikanmu dan kesejahteraan hidupmu dan agar kamu terhindar dan selamat dari azab dan seksaan Allah s.w.t. di dunia mahupun di akhirat."

Dalam berdialog dengan kaumnya. Nabi Hud selalu berusaha mengetuk hati nurani mereka dan mengajak mereka berfikir secara rasional, menggunakan akal dan fikiran yang sihat dengan memberikan bukti-bukti yang dapat diterima oleh akal mereka tentang kebenaran dakwahnya dan kesesatan jalan mereka namun hidayah iu adalah dari Allah s.w.t., Dia akan memberinya kepada siapa yang Dia kehendakinya.

Nabi Idris a.s

Nabi Idris adalah keturunan keenam daripada nabi Adam. Nama baginda ialah Idris bin Mahlail bin Qinan bin Anusy bin Syits bin Adam dan na...