Sabtu, 18 September 2010

Kisah Uwais Al Qurni.


TAK TERKENAL DI BUMI, TERKENAL DI LANGIT


Pada zaman Nabi Muhammad SAW, ada seorang pemuda bermata biru, rambutnya merah, pundaknya lapang panjang, berpenampilan cukup tampan, kulitnya kemerah-merahan, dagunya menempel di dada selalu melihat pada tempat sujudnya, tangan kanannya menumpang pada tangan kirinya, ahli membaca Al Quran dan menangis, pakaiannya hanya dua helai yang sudah kusut yang satu untuk penutup badan dan yang satunya untuk selendangan, tiada orang yang menghiraukan, tak dikenal oleh penduduk bumi akan tetapi sangat terkenal di langit.

Dia, jika bersumpah demi Allah pasti terkabul. Pada hari kiamat nanti ketika semua ahli ibadah dipanggil disuruh masuk surga, dia justru dipanggil agar berhenti dahulu dan disuruh memberi syafaat, ternyata Allah memberi izin dia untuk memberi syafaat sejumlah qobilah Robiah dan qobilah Mudhor, semua dimasukkan surga tak ada yang ketinggalan karenanya.

Dia adalah Uwais al-Qarni.

Ia tak dikenali ramai dan juga miskin, banyak orang suka menertawakannya, mengolok-olok, dan menuduhnya sebagai tukang membujuk, tukang mencuri serta berbagai macam umpatan dan penghinaan lainnya.

Seorang fuqoha negeri Kuffah, karena ingin duduk dengannya, memberinya hadiah dua helai pakaian, tapi tak berhasil dengan baik, karena hadiah pakaian tadi diterima lalu dikembalikan lagi olehnya seraya berkata :Aku khawatir, nanti sebagian orang menuduh aku, dari mana kamu dapatkan pakaian itu, kalau tidak dari membujuk pasti dari mencuri. Pemuda dari Yaman ini telah lama menjadi yatim, tak punya sanak saudara kecuali hanya ibunya yang telah tua renta dan lumpuh. Hanya penglihatan kabur yang masih tersisa. Untuk mencukupi kehidupannya sehari-hari, Uwais bekerja sebagai penggembala kambing. Upah yang diterimanya hanya cukup untuk sekedar menopang kesehariannya bersama Sang ibu, bila ada kelebihan, ia pergunakan untuk membantu tetangganya yang hidup miskin dan serba kekurangan seperti keadaannya.Kesibukannya sebagai penggembala domba dan merawat ibunya yang lumpuh dan buta, tidak mempengaruhi kegigihan ibadahnya, ia tetap melakukan puasa di siang hari dan bermunajat di malam harinya Uwais al-Qarni telah memeluk Islam pada masa negeri Yaman mendengar seruan Nabi Muhammad SAW. yang telah mengetuk pintu hati mereka untuk menyembah Allah, Tuhan Yang Maha Esa, yang tak ada sekutu bagi-Nya.

Islam mendidik setiap pemeluknya agar berakhlak luhur. Peraturan-peraturan yang terdapat di dalamnya sangat menarik hati Uwais, sehingga setelah seruan Islam datang di negeri Yaman, ia segera memeluknya, karena selama ini hati Uwais selalu merindukan datangnya kebenaran.Banyak tetangganya yang telah memeluk Islam, pergi ke Madinah untuk mendengarkan ajaran Nabi Muhammad SAW secara langsung. Sekembalinya di Yaman, mereka memperbarui rumah tangga mereka dengan cara kehidupan Islam. Alangkah sedihnya hati Uwais setiap melihat tetangganya yang baru datang dari Madinah. Mereka itu telah bertamu dan bertemu dengan kekasih Allah penghulu para Nabi, sedang ia sendiri belum.Kecintaannya kepada Rasulullah menumbuhkan kerinduan yang kuat untuk bertemu dengan sang kekasih, tapi apalah daya ia tak punya bekal yang cukup untuk ke Madinah, dan yang lebih ia beratkan adalah sang ibu yang jika ia pergi, tak ada yang merawatnya.

Di ceritakan ketika terjadi perang Uhud Rasulullah SAW mendapat cedera dan giginya patah karena dilempari batu oleh musuh-musuhnya. Kabar ini akhirnya terdengar oleh Uwais. Ia segera memukul giginya dengan batu hingga patah. Hal tersebut dilakukan sebagai bukti kecintaannya kepada beliau SAW, sekalipun ia belum pernah melihatnya.Hari berganti dan musim berlalu, dan kerinduan yang tak terbendung membuat hasrat untuk bertemu tak dapat dipendam lagi. Uwais merenungkan diri dan bertanya dalam hati, bilakah ia dapat menziarahi Nabinya dan memandang wajah beliau dari dekat ? Tapi, bukankah ia mempunyai ibu yang sangat membutuhkan perawatannya dan tak tega ditingalkan sendiri, hatinya selalu gelisah siang dan malam menahan kerinduan untuk berjumpa.Akhirnya, pada suatu hari Uwais mendekati ibunya, mengeluarkan isi hatinya dan memohon izin kepada ibunya agar diperkenankan pergi menziarahi Nabi SAW di Madinah. Sang ibu, walaupun telah uzur, merasa terharu ketika mendengar permohonan anaknya. Beliau memaklumi perasaan Uwais, dan berkata:Pergilah wahai anakku ! temuilah Nabi di rumahnya. Dan bila telah berjumpa, segeralah engkau kembali pulang.Dengan rasa gembira ia berkemas untuk berangkat dan tak lupa menyiapkan keperluan ibunya yang akan ditinggalkan serta berpesan kepada tetangganya agar dapat menemani ibunya selama ia pergi. Sesudah berpelukkan sambil menciumi sang ibu, berangkatlah Uwais menuju Madinah yang berjarak kurang lebih empat ratus kilometer dari Yaman. Medan yang begitu ganas dilaluinya, tak peduli penyamun gurun pasir, bukit yang curam, gurun pasir yang luas yang dapat menyesatkan dan begitu panas di siang hari, serta begitu dingin di malam hari, semuanya dilalui demi bertemu dan dapat memandang sepuas-puasnya paras baginda Nabi SAW yang selama ini dirindukannya.

Tibalah Uwais al-Qarni di kota Madinah. Segera ia menuju ke rumah Nabi SAW, diketuknya pintu rumah itu sambil mengucapkan salam. Keluarlah sayyidatina Aisyah r.a., sambil menjawab salam Uwais. Segera saja Uwais menanyakan Nabi yang ingin dijumpainya. Namun ternyata beliau SAW tidak berada di rumah melainkan berada di medan perang.Betapa kecewa hati sang perindu, dari jauh ingin berjumpa tetapi yang dirindukannya tak berada di rumah. Dalam hatinya bergolak perasaan ingin menunggu kedatangan Nabi SAW dari medan perang. Tapi, bilakah beliau pulang ? Sedangkan masih terngiang di telinga pesan ibunya yang sudah tua dan sakit-sakitan itu, agar ia cepat pulang ke Yaman, Engkau harus lekas pulang.Karena ketaatan kepada ibunya, pesan ibunya tersebut telah mengalahkan suara hati dan kemauannya untuk menunggu dan berjumpa dengan Nabi SAW. Ia akhirnya dengan terpaksa mohon pamit kepada sayyidatina Aisyah r.a. untuk segera pulang ke negerinya. Dia hanya menitipkan salamnya untuk Nabi SAW dan melangkah pulang dengan perasaan haru.

Sepulangnya dari perang, Nabi SAW langsung menanyakan tentang kedatangan orang yang mencarinya. Nabi Muhammad SAW menjelaskan bahwa Uwais al-Qarni adalah anak yang taat kepada ibunya. Ia adalah penghuni langit (sangat terkenal di langit). Mendengar perkataan baginda Rosulullah SAW, sayyidatina Aisyah r.a. dan para sahabatnya tertegun. Menurut kata sayyidatina Aisyah r.a., memang benar ada yang mencari Nabi SAW dan segera pulang kembali ke Yaman, karena ibunya sudah tua dan sakit-sakitan sehingga ia tidak dapat meninggalkan ibunya terlalu lama.

Rosulullah SAW bersabda : Kalau kalian ingin berjumpa dengan dia (Uwais al-Qarni), perhatikanlah, ia mempunyai tanda putih di tengah-tengah telapak tangannya.Sesudah itu beliau SAW, memandang kepada sayyidina Ali k.w. dan sayyidina Umar r.a. dan bersabda : Suatu ketika, apabila kalian bertemu dengan dia, mintalah doa dan istighfarnya, dia adalah penghuni langit dan bukan penghuni bumi.

Tahun terus berjalan, dan tak lama kemudian Nabi SAW wafat, hingga kekhalifahan sayyidina Abu Bakar ash-Shiddiq r.a. telah di lantik menjadi Khalifah Umar r.a. Suatu ketika, khalifah Umar teringat akan sabda Nabi SAW. tentang Uwais al-Qarni, sang penghuni langit. Beliau segera mengingatkan kepada sayyidina Ali k.w. untuk mencarinya bersama. Sejak itu, setiap kali ada kafilah yang datang dari Yaman, beliau berdua selalu menanyakan tentang Uwais al-Qorni, apakah ia turut bersama mereka. Diantara kafilah-kafilah itu ada yang merasa heran, apakah sebenarnya yang terjadi sampai-sampai ia dicari oleh dua orang sahabat nabi yang besar ini. Rombongan kafilah dari Yaman menuju Syam silih berganti, membawa barang dagangan mereka.

Suatu ketika, Uwais al-Qorni turut bersama rombongan kafilah menuju kota Madinah. Melihat ada rombongan kafilah yang datang dari Yaman, segera khalifah Umar r.a. dan sayyidina Ali k.w. mendatangi mereka dan menanyakan apakah Uwais turut bersama mereka. Rombongan itu mengatakan bahwa ia ada bersama mereka dan sedang menjaga unta-unta mereka di perbatasan kota. Mendengar jawaban itu, beliau berdua bergegas pergi menemui Uwais al-Qorni.Sesampainya di kemah tempat Uwais berada, Khalifah Umar r.a. dan sayyidina Ali k.w. memberi salam. Namun rupanya Uwais sedang melaksanakan sholat. Setelah mengakhiri shalatnya, Uwais menjawab salam kedua tetamu agung tersebut sambil bersalaman. Sewaktu berjabatan, Khalifah Umar segera membalikkan tangan Uwais, untuk membuktikan kebenaran tanda putih yang berada ditelapak tangan Uwais, sebagaimana pernah disabdakan oleh baginda Nabi SAW. Memang benar ! Dia penghuni langit.

Dan ditanya Uwais oleh kedua tamu tersebut, siapakah nama saudara ?Abdullah, jawab Uwais.Mendengar jawaban itu, kedua sahabat pun tersenyum dan mengatakan : Kami juga Abdullah, yakni hamba Allah. Tapi siapakah namamu yang sebenarnya ?Uwais kemudian berkata: Nama saya Uwais al-Qorni.

Dalam pembicaraan mereka, diketahuilah bahwa ibu Uwais telah meninggal dunia. Itulah sebabnya, ia baru dapat turut bersama rombongan kafilah dagang saat itu. Akhirnya, Khalifah Umar dan Ali k.w. memohon agar Uwais berkenan mendoakan untuk mereka. Uwais enggan dan dia berkata kepada khalifah:Sayalah yang harus meminta doa daripada anda berdua. Mendengar perkataan Uwais, Khalifah berkata:Kami datang ke sini untuk mohon doa dan istighfar dari anda. Karena desakan kedua sahabat ini, Uwais al-Qorni akhirnya mengangkat kedua tangannya, berdoa dan membacakan istighfar.

Setelah itu Khalifah Umar r.a. berjanji untuk menyumbangkan wang negara dari Baitul Mal kepada Uwais, untuk jaminan hidupnya. Segera saja Uwais menolak dengan halus dengan berkata : Terimakasih wahai Amirul mu'minin. Hamba sama sekali tidak bermaksud menolak pemberian tuan, Hamba mohon supaya hari ini saja hamba diketahui orang. Untuk hari-hari selanjutnya, biarlah hamba yang fakir ini tidak diketahui orang lagi."

Setelah kejadian itu, nama Uwais kembali tenggelam tak terdengar beritanya.Tapi ada seorang lelaki pernah bertemu dan di tolong oleh Uwais , waktu itu kami sedang berada di atas kapal menuju tanah Arab bersama para pedagang, tanpa disangka-sangka angin topan berhembus dengan kencang. Akibatnya hempasan ombak menghantam kapal kami sehingga air laut masuk ke dalam kapal dan menyebabkan kapal semakin berat.Pada saat itu, kami melihat seorang laki-laki yang mengenakan selimut berbulu di pojok kapal yang kami tumpangi, lalu kami memanggilnya. Lelaki itu keluar dari kapal dan melakukan sholat di atas air. Betapa terkejutnya kami melihat kejadian itu.Wahai waliyullah, Tolonglah kami ! tetapi lelaki itu tidak menoleh.Lalu kami berseru lagi, Demi Zat yang telah memberimu kekuatan beribadah, tolonglah kami!Lelaki itu menoleh kepada kami dan berkata: Apa yang terjadi ?Tidakkah engkau melihat bahwa kapal dihembus angin dan dihantam ombak ?tanya kami.Dekatkanlah diri kalian pada Allah ! katanya.Kami telah melakukannya.Keluarlah kalian dari kapal dengan membaca bismillahirrohmaanirrohiim!Kami pun keluar dari kapal satu persatu dan berkumpul di dekat itu. Pada saat itu jumlah kami lima ratus jiwa lebih. Sungguh ajaib, kami semua tidak tenggelam, sedangkan perahu kami berikut isinya tenggelam ke dasar laut. Lalu orang itu berkata pada kami ,Tak apalah harta kalian menjadi korban asalkan kalian semua selamat.Demi Allah, kami ingin tahu, siapakah nama Tuan ? Tanya kami.Uwais al-Qorni. Jawabnya dengan singkat.Kemudian kami berkata lagi kepadanya, Sesungguhnya harta yang ada di kapal tersebut adalah milik orang-orang fakir di Madinah yang dikirim oleh orang Mesir. Jika Allah mengembalikan harta kalian. Apakah kalian akan membagi-bagikannya kepada orang-orang fakir di Madinah? tanyanya.Ya,jawab kami.Orang itu pun melaksanakan sholat dua rakaat di atas air, lalu berdoa. Setelah Uwais al-Qorni mengucap salam, tiba-tiba kapal itu muncul ke permukaan air, lalu kami menumpanginya dan meneruskan perjalanan. Setibanya di Madinah, kami membagi-bagikan seluruh harta kepada orang-orang fakir di Madinah, tidak satupun yang tertinggal.

Beberapa waktu kemudian, tersiar kabar kalau Uwais al-Qorni telah pulang ke rahmatullah. Anehnya, pada saat dia akan dimandikan tiba-tiba sudah banyak orang yang berebutan untuk memandikannya. Dan ketika dibawa ke tempat pembaringan untuk dikafani, di sana sudah ada orang-orang yang menunggu untuk mengkafaninya. Demikian pula ketika orang pergi hendak menggali kuburnya. Di sana ternyata sudah ada orang-orang yang menggali kuburnya hingga selesai. Ketika usungan dibawa menuju ke pekuburan, luar biasa banyaknya orang yang berebutan untuk mengusungnya.Dan Syeikh Abdullah bin Salamah menjelaskan, ketika aku ikut mengurusi jenazahnya hingga aku pulang dari mengantarkan jenazahnya, lalu aku bermaksud untuk kembali ke tempat penguburannya guna memberi tanda pada kuburannya, akan tetapi sudah tak terlihat ada bekas kuburannya. (Syeikh Abdullah bin Salamah adalah orang yang pernah ikut berperang bersama Uwais al-Qorni pada masa pemerintahan sayyidina Umar r.a.) Meninggalnya Uwais al-Qorni telah menggemparkan masyarakat kota Yaman. Banyak terjadi hal-hal yang amat mengherankan. Sedemikian banyaknya orang yang tak dikenal berdatangan untuk mengurus jenazah dan pemakamannya, padahal Uwais adalah seorang fakir yang tak dihiraukan orang. Sejak ia dimandikan sampai ketika jenazahnya hendak diturunkan ke dalam kubur, di situ selalu ada orang-orang yang telah siap melaksanakannya terlebih dahulu.

Penduduk kota Yaman tercengang.Mereka saling bertanya-tanya : Siapakah sebenarnya engkau wahai Uwais al-Qorni ? Bukankah Uwais yang kita kenal, hanyalah seorang fakir yang tak memiliki apa-apa, yang kerjanya hanyalah sebagai penggembala domba dan unta ? Tapi, ketika hari wafatmu, engkau telah menggemparkan penduduk Yaman dengan hadirnya manusia-manusia asing yang tidak pernah kami kenal. Mereka datang dalam jumlah terlalu ramai. Agaknya mereka adalah para malaikat yang di turunkan ke bumi, hanya untuk mengurus jenazah dan pemakamannya. Baru saat itulah penduduk Yaman mengetahuinya siapa Uwais al-Qorni ternyata ia tak terkenal di bumi tapi menjadi terkenal di langit.

Rabu, 15 September 2010

ISLAMNYA ABUZAR GHIFARI




Abuzar Ghifari merupakan seorang sahabat c yang terkenal dengan perbendaharaan ilmu pengetahuan dan kesalehannya.Kata Ali r.a.hu.: "Abuzar ialah penyimpan jenis-jenis ilmu pengetahuan yang tak dapat diperolehi oleh orang lain.
Apabila ia mula-mula mendengar khabar tentang kerasulan Nabi Muhammad s.a.w., dia telah menghantar saudara laki-lakinya untuk menyiasat dengan lebih mendalam mengenai orang yang mendakwa menerima berita dari langit.Setelah puas menyiasat, saudaranya pun melapurkan kepada Abuzar yang Nabi Muhammad s.a.w. itu seorang yang bersopan-santun dan baik budi pekertinya. Ayat-ayat yang dibaca kepada manusia bukannya puisi dan bukan pula kata-kata ahli syair. Lapuran yang disampaikan itu masih belum memuaskan hati Abuzar. Dia sendiri keluar untuk mencari kenyataaan. Setibanya di Mekah, dia terus ke Baitul Haram. Pada masa itu dia tidak kenalNabi Muhammad s.a.w. dan memandangkan keadaaan pada masa itu dia berasa takut hendak bertanya darihal Nabi Muhammad s.a.w.Apabila menjelang waktu malam, dia dilihat oleh Ali r.a.hu. Oleh kerana dia seorang musafir Ali r.a.hu terpaksa membawa Abuzar kerumahnya dan melayani Abuzar sebaik-baiknya sebagai tetamu. Ali r.a.hu tidak bertanya sesuatu apa pun dan Abuzar bagi pihak dirinya pun tidak memberitahukan Alitentang maksud kedatangannya ke Mekah. Pada keesokan harinya Abuzar pergi sekali lagi ke Baitul Haram untuk mengetahui siapa dia Muhammad. Sekali lagi Abuzar gagal menemui Nabi Muhammad s.a.w. kerana pada masa itu orang-orang ISLAM sedang diganggu hebat oleh kafir-kafir musrikin. Bagi malam yang keduanya Ali r.a.hu membawa Abuzar kerumahnya. Pada malam yang kedua ini pun Ali r.a.hu tidak bertanya hal Abuzar, tetapi pada malam ketiga Ali r.a.hu bertanya:"Saudara, apakah sebabnya saudara datang ke kota ini?"

Sebelum menjawab, Abuzar meminta Ali r.a.hu berjanji supaya bercakap benar. Kemudian ia pun bertanya kepada Ali r.a.hu tentang Nabi Muhammad s.a.w. Ali r.a.hu berkata sebagai menjawab soalan Abuzar:"Dia sesungguhnya PESURUH ALLAH. Esok engkau ikut saja aku dan aku akan membawa kamu menjumpainya. Tetapi awas bencana yang buruk akan menimpai kamu kalau perhubungan kita ditahui orang. Semasa berjalan esok kalau aku dapati bahaya mengancam kita aku akan berpisah agak jauh sedikit daripada kamu dan berpura-pura membetulkan kasutku, tetapi engkau terus berjalan supaya orang tidak mensyaki perhubungan kita."

Pada esoknya itu Ali r.a.hu pun membawa Abuzar bertemu dengan Nabi Muhammad s.a.w. Tanpa banyak soal-jawab, dia telah memeluk agama ISLAM. O;eh kerana takut kalau-kalau dia diapa-apakan oleh pihak musuh, Nabi Muhammad s.a.w. pun menasihatinya supaya lekas balik dan supaya jangan mengistiharkan pengislaman di khalayak ramai, tetapi Abuzar dengan berani menjawab:"Ya Rasulullah, aku bersumpah dengan Allah yang jiwaku ditanganNya bahawa aku akan mengucap KALIMAH SYAHADAH dihadapan kafir-kafir musyirikin itu."

Janjinya pada Nabi Muhammad s.a.w. ditepatinya. Selepas ia meninggalkan Bagimda dia mengarahkan langkahnya ke Baitul Haram dimana dihadapan kaum musyrikin dan dengan suara yang lantang dia telah mengucapkan DUA KALIMAT SYAHADAH

"AKU MENYAKSIKAN YANG TIADA TUHAN MELAINKAN ALLAH DAN AKU MENYAKSIKAN YANG MUHAMMAD ITU PESURUH ALLAH."

Apatah lagi, demi didengarinya ucapan Abuzar itu, orang-oarang kafir pun menyerbuinya lalu memukulnya. Kalau tidaklah kerana Abbas, (ayah saudara Nabi Muhammad s.a.w. yang ketika itu belum memeluk agama ISLAM ) Abuzar sudah tentu menemui ajalnya.Kata Abbas kepada kafir-kafir musyirikin yang menyerang Abuzar:"Tahukah kamu siapa orang ini? Dia ialah dari puak Ghifar. Khalifah-khalifah kita yang berulang alik ke Sham terpaksa melalui perkampungan mereka. Kalaulah ia dibunuh, mereka sudah tentu akan menghalang perniagaan kita dengan Sham."

Pada hari yang berikutnya Abuzar sekali lagi mengucap DUA KALIMAT SYAHADAH dihadapan kafir-kafir Quraish dan pada kali ini juga ia telah diselamatkan oleh Abbas.Keghairahan Abuzar mengucap DUA KALIMAH SYAHADAH dihadapan kafir-kafir Khuraish sungguh-sungguh luar biasa kalau dikaji dalam kontek larangan Nabi Muhammad s.a.w. kepadanya. Apakah dia boleh dituduh sebagai telah mengingkari perintah Nabi Muhammad s.a.w.

Jawabnya-TIDAK. Dia tahu yang Nabi Muhammad s.a.w. sedang mengalami penderitaan yang berbentuk gangguan dalam usahanya kearah menyibarkan agama Islam. Dia hanya hendak mencontohi Nabi Muhammad s.a.w. walaupun dia mengetahui dengan berbuat demikian dia mendedahkan dirinya kepada bahaya. Semangat keislaman yang sebeginilah yang telah membolehkan para sahabat mencapai puncak kejayaan dalam alam lahiriah serta batiniah. Keberanian Abuzar ini sudah selayaknya dicontohi oleh umat Islam dewasa ini didalam rangka usaha mereka menjalankan dakwah Islamiah. Kekejaman, penganiayaan serta penindasan tidak semestinya melemahkan semangat mereka yang telah mengucapkan Dua Khalimah Syahadah

Nabi Idris a.s

Nabi Idris adalah keturunan keenam daripada nabi Adam. Nama baginda ialah Idris bin Mahlail bin Qinan bin Anusy bin Syits bin Adam dan na...