Sabtu, 15 Mei 2010

Tiga Nasihat



Pada suatu hari, ada seseorang menangkap burung. Burung itu berkata kepadanya, Aku tak berguna
bagimu sebagai tawanan. Lepaskan saja aku. Nanti aku beri kau tiga nasihat.
Si burung berjanji akan memberikan nasihat pertama ketika berada dalam genggaman orang itu. Yang
kedua akan diberikannya kalau ia sudah berada di cabang pohon dan yang ketiga ketika ia sudah
mencapai puncak bukit.
Orang itu setuju, lalu ia meminta nasihat pertama. Kata burung itu, Kalau kau kehilangan sesuatu,
meskipun engkau menghargainya seperti hidupmu sendiri, jangan menyesal.
Orang itu pun melepaskannya dan burung itu segera melompat ke dahan. Disampaikannya nasihat yang
kedua, Jangan percaya kepada segala yang bertentangan dengan akal, apabila tak ada bukti.
Kemudian burung itu terbang ke puncak gunung. Dari sana ia berkata, Wahai manusia malang! Dalam
diriku terdapat dua permata besar, kalau saja tadi kau membunuhku, kau akan memperolehnya. Orang
itu sangat menyesal memikirkan kehilangannya, namun katanya, setidaknya, katakan padaku nasihat
yang ketiga itu!
Si burung menjawab, Alangkah tololnya kau meminta nasihat ketiga sedangkan yang kedua pun belum
kau renungkan sama sekali. Sudah kukatakan padaku agar jangan kecewa kalau kehilangan dan jangan
mempercayai hal yang bertentangan dengan akal. Kini kau malah melakukan keduanya. Kau percaya
pada hal yang tak masuk akal dan menyesali kehilanganmu. Aku pun tidak cukup besar untuk
menyimpan dua permata besar! Kau tolol! Oleh karenanya kau harus tetap berada dalam keterbatasan
yang disediakan bagi manusia.
(Catatan: Dalam lingkungan darwis, kisah ini dianggap sangat penting untuk mengakalkan fikiran
siswa sufi, menyiapkannya menghadapi pengalaman yang tidak boleh dicapai dengan cara-cara biasa.
Di samping penggunaannya sehari-hari di kalangan sufi, kisah ini terdapat juga dalam karya klasik
Rumi, Matsnawi. Kisah ini juga ditonjolkan dalam Kitab Ketuhanan karya Fariduddin Aththar, salah
seorang guru Rumi. Kedua tokoh sufi itu hidup pada abad ketiga belas.)

Tiada ulasan:

Catat Ulasan

Nabi Idris a.s

Nabi Idris adalah keturunan keenam daripada nabi Adam. Nama baginda ialah Idris bin Mahlail bin Qinan bin Anusy bin Syits bin Adam dan na...